Kinerja Manis YUPI Awal 2026, Pendapatan Naik 9% Jadi Rp763,18 Miliar

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) mampu meraup pendapatan Rp763,18 miliar meski mengalami tekanan pada sisi operasional seiring dengan kenaikan beban penjualan pada kuartal I/2026.

Berdasarkan laporan keuangan YUPI yang dikutip, Jumat (30/4/2026), pendapatan perseroan pada tiga bulan pertama 2026 mencapai Rp763,18 miliar, tumbuh sekitar 9,08% dibandingkan Rp699,65 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Namun, perbaikan kinerja lebih ditopang oleh penurunan beban pokok penjualan yang turun menjadi Rp430,27 miliar dari Rp462,84 miliar.

Kondisi tersebut mendorong laba bruto melonjak signifikan menjadi Rp332,90 miliar dari Rp236,81 miliar. Dengan demikian, margin laba bruto meningkat 40,5%.

Meski demikian, tekanan mulai terlihat dari sisi operasional. Beban penjualan naik menjadi Rp52,92 miliar dari Rp33,11 miliar, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp42,94 miliar dari Rp25,66 miliar.

Adapun, beban penjualan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh lonjakan biaya pemasaran dan promosi sebesar 80,9% menjadi Rp30,33 miliar.

Baca Juga

  • Yupi Indo Jelly (YUPI) Cetak Laba Bersih Rp613,13 Miliar Sepanjang 2025
  • Cek Jadwal Pembayaran Dividen Interim Pekan Ini, Ada MCOL, TOTO hingga YUPI
  • Yupi Indo Jelly (YUPI) Bakal Bangun Pabrik Anyar di Nganjuk pada 2027

Di sisi lain, pendapatan usaha lainnya turun drastis menjadi Rp2,75 miliar dari Rp27,07 miliar. Kombinasi faktor tersebut membuat pertumbuhan laba usaha menjadi lebih terbatas, yakni Rp232,83 miliar dari Rp204,92 miliar.

Setelah memperhitungkan beban keuangan dan pajak, laba periode berjalan tercatat Rp177,02 miliar, naik sekitar 5,86% dari Rp167,22 miliar pada kuartal I/2025.

Kinerja laba yang tetap tumbuh ini turut mendorong saldo laba belum ditentukan penggunaannya meningkat menjadi Rp605,51 miliar dari Rp428,48 miliar pada akhir 2025.

Namun, arus kas menunjukkan dinamika berbeda. Kas bersih dari aktivitas operasi hanya mencapai Rp48,39 miliar, anjlok dibandingkan Rp305,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut dipicu oleh turunnya penerimaan kas dari pelanggan menjadi Rp625,41 miliar dari Rp764,93 miliar, serta lonjakan pembayaran beban usaha dan karyawan yang masing-masing mencapai Rp79,79 miliar dan Rp89,74 miliar.

Dari sisi neraca, total aset meningkat menjadi Rp3,15 triliun per Maret 2026 dari Rp2,89 triliun pada akhir 2025. Kenaikan terutama ditopang oleh pertumbuhan piutang usaha menjadi Rp550,43 miliar dari Rp395,37 miliar serta persediaan yang naik menjadi Rp400,27 miliar dari Rp366,06 miliar.

Sementara itu, liabilitas naik menjadi Rp1,42 triliun dari Rp1,33 triliun. Adapun ekuitas meningkat menjadi Rp1,73 triliun dari Rp1,55 triliun.

Kenaikan piutang dan persediaan yang cukup signifikan mengindikasikan peningkatan aktivitas penjualan, tetapi sekaligus menahan likuiditas jangka pendek perseroan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK panggil Komisaris PT Loco Montrado usai terbitkan SP3 Siman Bahar
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
70 persen lahan terdampak bencana di Sumbar rampung dipulihkan
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus Pencurian Makanan Berskala Besar yang Menggegerkan Dunia
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Diduga Menyembunyikan Catatan Federal AS Selama Pandemi COVID, Mantan Penasihat Ahli Medis Didakwa
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
KNKT Mulai Usut Dugaan Persinyalan Kereta jadi Pemicu Kecelakaan KRL di Bekasi
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.