Jakarta, VIVA – Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said menilai ada tiga masalah utama yang mempengaruhi ketahanan energi di Indonesia. Terlepas dari harga minyak yang fluktuatif akibat penutupan Selat Hormuz.
"Tekanan pada energy security kita terus terjadi karena tiga aspek fundamental. Pertama, pola pikir jangka pendek atau ‘shortterm-isme’. Kedua, politik dan kebijakan populis yang terlalu dominan. Ketiga, maraknya praktik conflict of interest antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha," kata Sudirman dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 30 April 2026.
Menurutnya, tiga masalah itu telah menciptakan kegagalan sistemik yang berulang dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.
"Akibat dari tiga hal tadi, kita selalu gagal dalam mengelola urusan yang fundamental dan berdimensi jangka panjang. Riset dan pengembangan migas, eksplorasi, transisi energi, hingga tata-kelola pasokan minyak., semuanya seret atau mangkrak," kata dia.
Indonesia mengonsumsi bahan bakar minyak 1,6 juta bph (barel per hari), tapi hanya mampu memproduksi 600-610 ribu bph. Artinya, separuh lebih dari kebutuhan nasional bergantung penuh pada impor. Untuk membiayainya, saban hari negara harus membelanjakan valuta asing minimal USD100 juta. Pada 29 April 2026, tekanan itu mendorong rupiah terjun ke titik terendah sepanjang masa: Rp17.326 per 1USD.
Sudirman menilai, hal itu bisa diantisipasi jika tata-kelola energi nasional tidak digerogoti oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek. Ia mencontohkan bagaimana wacana transisi energi di Indonesia selalu mengikuti siklus harga minyak, dan bukan pada visi strategis.
"Coba cermati polanya, riuh-rendah transisi energi hanya muncul tatkala suasana harga minyak sedang ekstrem tinggi. Begitu keadaan normal, kita pun lupa dan lalu business as usual kembali," ujarnya.
Pola itu, lanjut Sudirman, adalah bukti paling nyata dari dominasi shortterm-isme dalam pengambilan kebijakan energi. Ketika produksi tidak meningkat dan transisi energi menjadi sekadar jargon musiman, maka selamanya Indonesia akan terus terperangkap dalam jebakan yang sama.
"Jadi, pertanyaan yang harus bisa kita jawab sekarang bukanlah soal bagaimana bertahan melewati krisis ini. Tapi: mengapa kita selalu saja tidak siap dan kalang kabut ketika krisis datang?" pungkas Sudirman.





