FAJAR, LAMPUNG — Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah pernyataan keras dari Persib Bandung bahwa perburuan gelar belum selesai. Dalam laga yang nyaris berubah menjadi mimpi buruk, Maung Bandung justru menunjukkan wajah aslinya—tim dengan mental juara—dengan membalikkan keadaan dan menundukkan Bhayangkara FC dengan skor meyakinkan 4-2 di Stadion Sumpah Pemuda, Kamis (30/4/2026).
Awal laga berjalan di luar skenario. Persib seperti kehilangan ritme sejak menit pertama. Baru enam menit berjalan, Cedric Henri membawa Bhayangkara FC unggul cepat. Tekanan belum reda, petaka kembali datang di menit ke-26 saat Moussa Sidibe menggandakan keunggulan menjadi 2-0.
Di titik itu, pertandingan seolah mengarah ke satu kesimpulan: Persib akan tumbang, dan Borneo FC Samarinda akan semakin nyaman di puncak klasemen.
Namun sepak bola tidak pernah sesederhana itu.
Di tengah tekanan, Persib menemukan celah harapan. Pada masa injury time babak pertama, Federico Barba mencetak gol penting yang mengubah suasana. Skor 2-1 bukan hanya memperkecil jarak, tetapi menghidupkan kembali keyakinan.
Babak kedua menjadi milik Persib sepenuhnya.
Baru empat menit berjalan, Rosembergne da Silva menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Gol itu seperti membuka keran kepercayaan diri. Intensitas permainan meningkat, tekanan makin konsisten, dan Bhayangkara FC mulai kehilangan kendali.
Momentum puncak datang di menit ke-60.
Beckham Putra Nugraha, simbol regenerasi dan energi baru Persib, mencetak gol yang membalikkan keadaan menjadi 3-2. Sebuah momen yang mengubah total arah pertandingan—dari tim yang tertekan menjadi tim yang mengendalikan.
Namun Persib belum berhenti.
Di menit ke-89, Adam Alis memastikan kemenangan lewat gol keempat. Skor 4-2 menjadi penutup sempurna dari salah satu comeback paling dramatis musim ini.
Dari tertinggal dua gol, Persib membalas dengan empat gol tanpa ampun.
Kemenangan ini tidak hanya penting secara angka, tetapi juga secara psikologis. Persib menunjukkan bahwa mereka tidak runtuh saat tertekan. Mereka justru tumbuh. Dan itulah ciri utama tim juara.
Pelatih Bojan Hodak sebelumnya sudah mengingatkan ancaman lini depan Bhayangkara FC, termasuk kualitas Bernard Henry Doumba.
“Saya sudah mengenalnya cukup lama,” ujar Hodak.
Peringatan itu terbukti di awal laga. Namun yang lebih penting adalah respons setelahnya. Persib tidak panik. Tidak kehilangan struktur. Mereka tetap bermain dalam kerangka yang jelas—dan menunggu momen untuk bangkit.
Kemenangan ini membawa Persib kembali ke puncak klasemen dengan 69 poin, menyamai raihan Borneo FC. Persaingan kini benar-benar terbuka, dan tekanan berpindah ke kubu rival.
Bagi Borneo FC, hasil ini adalah sinyal bahwa Persib tidak akan menyerah begitu saja. Bahwa perburuan gelar akan berlangsung hingga detik terakhir.
Lebih dari itu, laga ini memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan statistik: karakter.
Persib tidak hanya menang karena taktik atau kualitas individu. Mereka menang karena keyakinan. Karena keberanian untuk tetap bermain ketika tertinggal. Karena kemampuan untuk mengubah tekanan menjadi energi.
Di fase akhir kompetisi, hal-hal seperti inilah yang sering menjadi pembeda.
Dan malam itu di Lampung, Persib Bandung tidak hanya meraih tiga poin.
Mereka mengirim pesan: gelar belum selesai diperebutkan.





