Penulis: Sugiarta
TVRINews - Denpasar
Harga minyak goreng di pasaran mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut tercatat berada di kisaran 7 hingga 14 persen, bergantung pada merek yang beredar di pasar.
Meski demikian, ketersediaan stok minyak goreng secara umum masih terjaga, termasuk di tingkat ritel di wilayah Bali.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO) Bali, Budiman Antonius Sinaga, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh faktor eksternal, terutama kondisi geopolitik global yang belum stabil.
“Kondisi geopolitik memengaruhi harga minyak dunia, biaya transportasi, hingga industri petrokimia yang menghasilkan bahan baku plastik. Ini yang kemudian berdampak pada harga barang, termasuk minyak goreng,” ujarnya.
Ia menyebut, distribusi minyak goreng dari produsen ke ritel hingga saat ini masih berjalan lancar, sehingga tidak menimbulkan kelangkaan di pasar. Namun, kondisi berbeda terjadi pada minyak goreng subsidi merek Minyakita yang justru mengalami lonjakan permintaan.
Tingginya minat masyarakat terhadap produk dengan harga terjangkau tersebut membuat Minyakita mengalami kekosongan di sejumlah titik penjualan.
Kenaikan harga juga tidak hanya terjadi pada minyak goreng. Budiman mengungkapkan bahwa hampir seluruh kebutuhan pokok saat ini mengalami tren serupa, termasuk beras.
Bahkan, sebagian besar jenis beras telah melampaui harga eceran tertinggi (HET), khususnya untuk kategori premium dan medium.
Di sisi lain, harga gula relatif masih stabil karena masih mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun, komoditas yang menggunakan kemasan plastik justru mengalami kenaikan paling tinggi, seiring meningkatnya biaya produksi akibat mahalnya bahan baku petrokimia di pasar global.
Untuk menjaga keterjangkauan harga beras, pemerintah masih mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Perum Bulog.
Beras SPHP saat ini masih dijual di kisaran Rp67.500 per kemasan lima kilogram dan menjadi salah satu penahan laju kenaikan harga di pasar.
Budiman menilai kondisi kenaikan harga ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Ia memperkirakan harga kebutuhan pokok berpotensi kembali stabil apabila situasi geopolitik, khususnya di Timur Tengah, mulai mereda dan distribusi kembali normal.
Kenaikan harga pangan ini turut menjadi perhatian karena berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama di daerah yang bergantung pada sektor konsumsi seperti Bali.
Sejumlah pengamat ekonomi sebelumnya juga menekankan pentingnya penguatan distribusi serta pengawasan harga di tingkat daerah untuk mencegah lonjakan yang lebih tinggi.
Pelaku ritel pun berharap pemerintah dapat terus menjaga stabilitas pasokan serta memperkuat kebijakan intervensi harga agar dampak gejolak pasar global tidak sepenuhnya dirasakan oleh konsumen.
Editor: Redaksi TVRINews





