Pasukan zionis Israel kembali melanggar hukum internasional dengan mencegat dan mengintersepsi armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0. Peristiwa ini terjadi di dekat perairan Kreta, Yunani, saat armada tersebut tengah dalam perjalanan menuju Gaza, pada Rabu 29 April 2026.
Hingga saat ini, nasib para aktivis yang berada di atas kapal-kapal tersebut masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan laporan dari Steering Committee GSF sekaligus Koordinator GPCI, Maimon Herawati total 22 kapal yang diintersepsi dan hilang kontak dengan pusat komando hingga siang hari waktu Turki.
Sebelum komunikasi terputus sepenuhnya, Maimon Herawati menceritakan adanya upaya sabotase terhadap sistem komunikasi armada. Tentara Israel dilaporkan membajak sinyal radio dari kapal-kapal yang berlayar menuju Gaza tersebut.
“Awalnya ada 11 kapal yang di-hijack, kemudian meningkat menjadi 18 kapal, dan hingga saat ini ada 22 kapal yang telah terputus komunikasinya dengan pusat komando Global Sumud Flotilla,” lapor jurnalis Metro TV, Andre Septian Yusup yang dikutip program Top News, Kamis 30 April 2026.
Baca juga: Kapal Bantuan Gaza Dirusak Israel, Ratusan Orang Terlantar di Laut
Armada Sumud Flotilla ini berangkat dari Barcelona, Spanyol, dan Italia dengan membawa misi besar untuk menembus blokade Israel di Gaza. Tujuan utama dari konvoi ini adalah menyalurkan bantuan kemanusiaan serta membuka koridor bagi rakyat Palestina yang berada di bawah kepungan.
Terkait keterlibatan relawan dari Tanah Air, dilaporkan bahwa tidak ada delegasi Indonesia yang berada di atas 22 kapal yang hilang kontak tersebut. Saat ini, sebanyak enam delegasi Indonesia yang diberangkatkan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) masih berada di Istanbul, Turki, pada 30 April 2026.
Keputusan mengenai apakah delegasi Indonesia akan tetap melanjutkan perjalanan menuju perairan Mediterania untuk menembus blokade Gaza masih menunggu instruksi lebih lanjut sambil memantau perkembangan situasi di lapangan.




