Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mencatatkan laba bersih konsolidasi senilai Rp1,77 triliun pada kuartal I/2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi senilai Rp1,84 triliun.
Merujuk laporan keuangan CIMB Niaga kuartal I/2026, laba operasional konsolidasi tercatat senilai Rp2,26 triliun, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp2,16 triliun. Kinerja ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp3,22 triliun, dibandingkan Rp3,32 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Di luar bunga, pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi naik 13,75% menjadi Rp764,60 miliar dari Rp672,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu, mencerminkan aktivitas transaksi nasabah yang semakin meningkat.
Pada pos non-operasional, laba tercatat sebesar Rp1,64 miliar, dibandingkan Rp85,27 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak secara konsolidasi mencapai Rp2,27 triliun, dibandingkan Rp2,24 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, capaian pada kuartal I/2026 mencerminkan awal tahun yang kuat bagi perseroan, didukung strategi bisnis yang disiplin dan fokus pada kualitas aset.
“Pertumbuhan pendapatan tetap terjaga stabil, didukung pengelolaan biaya yang disiplin serta pertumbuhan kredit yang selektif dengan dukungan CASA yang kuat,” ujar Lani melalui keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga
- Tok! RUPST Bank CIMB Niaga (BNGA) Sepakat Tebar Dividen Rp4,07 Triliun, Ini Rinciannya
- Laba Induk CIMB Naik
- Induk CIMB Niaga Bukukan Laba Rp34,79 Triliun Sepanjang 2025
Dari sisi intermediasi, total kredit atau pembiayaan tercatat mencapai Rp235,1 triliun atau tumbuh 2,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan terutama ditopang segmen corporate banking yang naik 4,8% yoy, disusul UKM 1,2% yoy, serta consumer banking 0,2% yoy.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp260,1 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh dana murah atau current account savings account (CASA) yang naik 12,2% yoy menjadi Rp192,3 triliun, dengan rasio CASA mencapai 73,9%.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, CIMB Niaga mencatatkan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,3% dan loan to deposit ratio (LDR) di level 89,2%, mencerminkan ruang ekspansi yang masih memadai. Total aset konsolidasian mencapai Rp368,2 triliun per Maret 2026.
Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di bawah rata-rata industri dan biaya kredit (cost of credit/coc) di bawah 1%.
Di segmen syariah, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga mempertahankan posisinya sebagai yang terbesar di Indonesia dengan total pembiayaan Rp52,9 triliun dan DPK Rp45 triliun.
Selain itu, perseroan juga mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp60,2 triliun atau sekitar 26% dari total portofolio, dengan kontribusi signifikan dari sektor UMKM yang mencapai Rp25,7 triliun.
Dari sisi digital, transformasi layanan terus diperkuat. Sekitar 90,6% transaksi nasabah telah dilakukan melalui kanal branchless banking, termasuk aplikasi OCTO dan OCTOBIZ. Transaksi melalui aplikasi OCTO bahkan tumbuh 29% pada kuartal ini.
Ke depan, CIMB Niaga menegaskan akan tetap mengedepankan pertumbuhan yang pruden dengan fokus pada penguatan CASA, peningkatan fee-based income, serta menjaga kualitas portofolio kredit.
“Pertumbuhan kredit akan dilakukan secara hati-hati dengan tetap menempatkan kualitas aset sebagai prioritas utama,” ujar Lani.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5571063/original/000963100_1777595582-Monas_Buruh.jpg)

