JAKARTA, KOMPAS.TV - Pakar Kebijakan Publik dan Ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu, Anzori Tawakal, buka suara menanggapi wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang berencana menghapus program studi atau prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menurut Anzori, tidak semua program studi dirancang untuk langsung terserap ke dunia kerja, karena sebagian memiliki orientasi jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia juga menilai wacana penghapusan program studi oleh Kemdiktisaintek terlalu dini sebelum ada analisa yang mendalam.
Baca Juga: Universitas Pertahanan RI 2026 Buka D3 Jalur Beasiswa: Cek Syarat, Prodi, dan Cara Daftarnya
Tujuan pendidikan nasional, kata Anzori, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti luas yang mencakup pengembangan pengetahuan, kemampuan berpikir, serta keterampilan individu dalam berbagai bidang.
Oleh sebab itu, beberapa prodi memiliki peran penting dalam mencetak peneliti, akademisi, serta pemikir yang berkontribusi terhadap kemajuan ilmu dan peradaban.
"Masih terlalu dini menilai suatu program studi atau prodi tidak relevan lalu dihapus karena pendidikan tidak hanya untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga membangun pengetahuan dan kemampuan manusia,” kata Anzori di Bengkulu, Kamis (30/4/2026), dikutip dari Antara.
Lebih lanjut, dia mengatakan lulusan perguruan tinggi juga memiliki pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti magister dan doktoral sesuai bidang keilmuannya.
Baca Juga: Prodi Ilmu Komputer ULM Jalani Asesmen Lapangan, Targetkan Akreditasi Terbaik
Selain itu, mekanisme pasar dinilai lebih tepat dalam menentukan keberlangsungan suatu program studi berdasarkan minat mahasiswa dan kebutuhan masyarakat.
Penulis : Dian Nita Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- Prodi Tidak Relevan Dihapus
- kemendikti saintek
- pakar




