KITA merayakan kemenangan 1886 sambil diam-diam menyerahkan kembali semua yang telah diperjuangkan melalui aplikasi smartphone, kontrak dua halaman, dan kata-kata yang terdengar seperti kebebasan.
Pada 1 Mei 2026, jutaan orang Indonesia akan mengirimkan ucapan "Selamat Hari Buruh".
Sebagian besar melalui aplikasi pesan instan yang diantarkan ke ponsel mereka oleh seorang kurir yang tidak mendapat tunjangan hari raya.
Pesan itu dikirim lewat jaringan internet yang dijaga oleh teknisi kontrak tanpa jaminan pensiun.
Lalu dibaca sambil memesan kopi dari kedai yang kasirnya bekerja paruh waktu agar pemilik toko terhindar dari kewajiban membayar iuran jaminan sosial.
Sebuah simfoni kemunafikan yang begitu sempurna hingga hampir terasa seperti seni pertunjukan.
Tapi mari kita tidak terlalu keras pada diri sendiri.
Baca juga: Ketika Kritik Tersenyum di Ruang Kekuasaan
Kemunafikan ini bukan kejahatan individual, ia adalah arsitektur sistemik yang telah kita bangun bersama dengan sangat hati-hati selama beberapa dekade terakhir.
Dan pada peringatan ke-140 tahun gerakan May Day yang lahir dari darah di Haymarket Square Chicago, sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?
"Eksploitasi tidak hilang. Ia berganti kostum dan kostum barunya jauh lebih mahal dari yang lama."
Penjajahan dengan Wajah yang Lebih RamahAda konsep sejarah yang disebut enclosure movement, proses panjang privatisasi tanah komunal di Inggris yang dimulai sejak abad ke-15 hingga abad ke-19.
Proses ini mengubah jutaan petani bebas menjadi buruh upahan yang tidak punya apa-apa selain tenaga mereka.
Para sejarawan menyebutnya sebagai salah satu transformasi struktural paling brutal dalam sejarah Barat.
Bukan dilakukan dengan kekerasan terbuka, melainkan dengan hukum, sertifikat kepemilikan, dan dokumen yang terlihat sah.
Tanah yang tadinya milik bersama tiba-tiba menjadi milik seseorang, dan mereka yang dulu hidup dari tanah itu kini harus menjual tenaga untuk bisa bertahan.
Yang terjadi hari ini adalah versi digitalnya. Kita menyebutnya gig economy.
Kita menyebutnya platform. Kita menyebutnya "mitra", bukan karyawan.
Sebuah eufemisme yang begitu elastis hingga mampu merentangkan realita seorang pengemudi yang bekerja 12 jam sehari menjadi gambaran seorang pengusaha bebas yang menikmati fleksibilitas hidup.
BPS mencatat pada November 2025 bahwa 85,35 juta pekerja Indonesia atau 57,70 persen dari total angkatan kerja berada di sektor informal.
Waktu, tenaga, dan data jutaan dari mereka dipagar oleh algoritma, lalu dijual kembali kepada publik dalam bentuk "layanan terjangkau".
Perbudakan abad ke-21 hadir tanpa rantai, hanya rating bintang lima dan ancaman deaktivasi akun.





