Memisahkan Gerbong, Menyelesaikan Masalah?

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

DALAM situasi krisis, manusia cenderung mencari jawaban cepat. Ketika kecelakaan kereta di Bekasi terjadi, publik tidak hanya berduka, tetapi juga segera menawarkan berbagai solusi.

Salah satu yang mencuat adalah usulan pemisahan gerbong bahkan sampai pada ide bahwa bagian depan atau belakang kereta diperuntukkan bagi laki-laki.

Sekilas, gagasan ini terdengar sederhana. Namun, pertanyaannya: apakah solusi semacam itu benar-benar menyentuh akar persoalan?

Kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026 di Bekasi bukanlah peristiwa kecil.

Insiden tersebut melibatkan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, yang berujung pada tabrakan hebat di Stasiun Bekasi Timur.

Sedikitnya 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut.

Baca juga: Kearifan Lokal yang Membahayakan di Perlintasan Kereta Api

Lebih memilukan, bagian yang paling terdampak adalah gerbong paling belakang KRL yang diketahui merupakan gerbong khusus perempuan.

Fakta ini kemudian memicu berbagai reaksi publik. Salah satunya adalah gagasan untuk mengatur ulang posisi penumpang berdasarkan jenis kelamin demi alasan keselamatan.

Namun, di sinilah persoalan mulai menjadi kompleks.

Antara Reaksi dan Solusi

Dalam studi kebijakan publik, dikenal istilah policy by panic kebijakan yang lahir dari kepanikan. Solusi yang muncul sering kali cepat, terlihat logis, tetapi belum tentu tepat.

Usulan pemisahan gerbong laki-laki di depan atau belakang, jika ditelusuri, berangkat dari asumsi sederhana: bahwa posisi tertentu lebih berisiko dibanding yang lain.

Padahal dalam kecelakaan Bekasi, posisi gerbong yang terdampak bukan semata karena “siapa yang berada di dalamnya”, tetapi karena dinamika teknis tabrakan termasuk faktor jalur, sinyal, dan gangguan sebelumnya di perlintasan.

Dengan kata lain, masalah utamanya bukan pada komposisi penumpang, tetapi pada sistem.

Memisahkan gerbong berdasarkan jenis kelamin mungkin memberi rasa aman secara psikologis. Namun, rasa aman tidak selalu sejalan dengan keamanan yang sesungguhnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam konteks transportasi, keselamatan ditentukan oleh banyak faktor: sistem sinyal, manajemen lalu lintas kereta, kondisi infrastruktur, hingga disiplin di perlintasan sebidang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Mengenali Orang Egois dari Kebiasaan Sehari-hari
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Uber Cup 2026: Indonesia Ditantang Korea Selatan di Semifinal, China Hadapi Jepang
• 10 jam laluharianfajar
thumb
GMTD Tebar Dividen dan Sahkan Pengurus Baru di RUPS 2026
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Bahaya Perlintasan Sebidang dan Solusi Efektif Tekan Kecelakaan Kereta Api
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Yusril Usul Ambang Batas Parlemen Sesuai Jumlah Komisi, PKB Bakal Kaji
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.