Laba Bank Jumbo BBCA, BMRI Cs Merekah, Intermediasi Belum Bergairah

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Laba bank-bank jumbo tumbuh solid pada kuartal I/2026, namun belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan fungsi intermediasi.

Empat bank kategori KBMI IV yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) kompak mencatatkan kenaikan laba secara tahunan (yoy), dengan pertumbuhan yang bervariasi.

Bank Mandiri membukukan laba Rp16,21 triliun atau tumbuh 11,6% yoy dari Rp14,53 triliun. BRI mencatat laba Rp15,63 triliun atau naik 13,8% yoy dari Rp13,74 triliun.

Sementara itu, BCA mencetak laba Rp14,69 triliun atau meningkat 5,2% yoy dari Rp14,14 triliun, dan BNI membukukan laba Rp5,68 triliun atau tumbuh 5,0% yoy dari Rp5,41 triliun.

Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit menunjukkan pola yang tidak seragam. BRI mencatat ekspansi kredit paling agresif dengan pertumbuhan sekitar 13,9% yoy menjadi Rp1.558 triliun dari Rp1.367 triliun. BNI bahkan mencatat lonjakan lebih tinggi sebesar 20,1% yoy menjadi Rp919 triliun dari Rp765 triliun.

Di sisi lain, BCA mencatat pertumbuhan kredit yang lebih moderat sebesar 5,6% yoy menjadi Rp993 triliun dari Rp941 triliun. Sementara itu, Bank Mandiri justru mengalami kontraksi kredit sekitar 5,9% yoy menjadi Rp1.568 triliun dari Rp1.666 triliun.

Baca Juga

  • Bank Mandiri (BMRI) Bagikan Dividen Tunai Rp44,47 Triliun
  • Kode Keras untuk Pemegang Saham BBCA
  • Laba Bersih BNI (BBNI) Tumbuh 4,70% Jadi Rp5,69 Triliun Kuartal I/2026

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga mencerminkan dinamika tersebut. BRI mencatat kenaikan NII sebesar 11,9% yoy menjadi Rp40,15 triliun dari Rp35,88 triliun, sementara BNI naik 12,1% yoy menjadi Rp11,02 triliun dari Rp9,83 triliun.

Sebaliknya, NII BCA relatif stagnan di Rp21,15 triliun atau hanya naik sekitar 0,04% yoy, sedangkan Bank Mandiri mengalami penurunan sekitar 1,8% yoy menjadi Rp25,04 triliun dari Rp25,50 triliun.

Dari sisi biaya dana, tren efisiensi terlihat pada beberapa bank. Beban bunga BRI turun 9,3% yoy menjadi Rp12,68 triliun, dan Bank Mandiri turun 12,7% yoy menjadi Rp12,32 triliun.

Sebaliknya, BCA mencatat kenaikan beban bunga 7,3% yoy menjadi Rp3,48 triliun, dan BNI naik 15,9% yoy menjadi Rp7,97 triliun.

Likuiditas juga menunjukkan perbedaan tekanan. BCA mencatat dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,3% yoy menjadi Rp1.292 triliun dari Rp1.193 triliun, dengan CASA naik 11,2% yoy menjadi Rp1.089 triliun. 

BRI menghimpun DPK Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4% yoy, dengan CASA meningkat 13,2% yoy menjadi Rp1.058 triliun.

BNI mencatat pertumbuhan paling tinggi, dengan DPK melonjak 34,3% yoy menjadi Rp1.100 triliun dari Rp819 triliun, dan CASA naik 26,6% yoy menjadi Rp731 triliun.

Sementara itu, Bank Mandiri mengalami tekanan likuiditas dengan DPK turun 1,1% yoy menjadi Rp1.730 triliun dan CASA turun 4,3% yoy menjadi Rp1.214 triliun.

Dari sisi aset, BRI mencatat pertumbuhan total aset sebesar 7,2% yoy menjadi Rp2.249 triliun, BCA naik 7,0% yoy menjadi Rp1.640 triliun, dan BNI mencatat lonjakan aset sebesar 24,4% yoy menjadi Rp1.426 triliun. Sebaliknya, total aset Bank Mandiri turun tipis sekitar 1,3% yoy menjadi Rp2.432 triliun.

Bank Central Asia Tbk. - TradingView
Inefisiensi Fungsi Intermediasi

Melihat kinerja Bank KBMI IV, Direktur Riset Core Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai bahwa pertumbuhan laba perbankan, khususnya bank-bank Himbara, perlu dicermati lebih dalam karena terjadi di tengah perlambatan penyaluran kredit.

“Kenaikan laba Himbara di tengah kredit yang melambat menandakan adanya gejala inefisiensi fungsi intermediasi. Laba tersebut kemungkinan besar didorong oleh penempatan dana di instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI, bukan sektor riil. Tren ini semu; bank terlihat sehat secara profit, namun belum tentu menggerakkan ekonomi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026). 

Dia menambahkan, kondisi tersebut juga memperlihatkan perbedaan pendekatan yang cukup kontras dengan BCA. Menurutnya, BCA cenderung lebih skeptis terhadap daya beli dan memilih menjaga likuiditas dibanding memaksakan ekspansi kredit.

“BCA lebih memilih memarkir likuiditas yang melimpah dibanding mendorong kredit ke sektor riil yang sedang berisiko. Sementara Himbara masih membawa mandat penyaluran kredit meski permintaan belum kuat,” jelasnya.

Etika juga menegaskan bahwa BCA sangat disiplin dalam menjaga kualitas aset, meskipun konsekuensinya adalah pertumbuhan laba yang lebih moderat.

“BCA sangat disiplin menjaga kualitas aset, meski itu berarti pertumbuhan laba harus melambat demi menghindari lonjakan NPL di masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia melihat adanya pergeseran strategi industri perbankan dari fungsi intermediasi kredit ke pengelolaan aset (asset management).

“Strategi bank saat ini bergeser dari lending menjadi asset management. Dalam kondisi risiko kredit meningkat, bank akan agresif menekan bunga simpanan untuk menjaga margin. Namun, hal ini berisiko membuat nasabah memindahkan dana ke instrumen investasi lain,” katanya.

Menurutnya, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank dapat kembali menyalurkan likuiditas yang menganggur ke sektor produktif sebelum beban bunga dana justru menekan profitabilitas.

“Strategi menjaga momentum sangat bergantung pada kemampuan bank menyalurkan likuiditas ke sektor produktif sebelum beban bunga DPK yang tinggi berbalik menekan laba operasional,” tuturnya.

Bank Mandiri (BMRI)

Margin Tertekan, Pertumbuhan Berpotensi Moderat

Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai keberlanjutan pertumbuhan laba bank-bank Himbara masih akan berlanjut, namun dengan kecenderungan melambat.

“Penopangnya masih ada, terutama dari kredit yang mulai pulih dan likuiditas domestik, termasuk penempatan dana pemerintah di perbankan. Namun tekanan juga meningkat dari cost of fund, kompetisi DPK, serta yield SBN yang masih tinggi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026). 

Dia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah oleh indikator ekonomi riil yang mulai melemah, seperti PMI yang turun mendekati batas ekspansi serta penurunan indeks menabung masyarakat.

“Artinya ruang ekspansi margin semakin sempit dan pertumbuhan laba ke depan berpotensi lebih moderat,” jelasnya.

Rizal juga menilai kinerja bank KBMI IV secara keseluruhan masih solid, tetapi tidak merata. Bank Mandiri dan BRI dinilai unggul karena ekspansi kredit yang agresif serta faktor basis kinerja yang lebih rendah sebelumnya. 

Sementara BNI masih berada dalam fase konsolidasi kualitas kredit, dan BCA mencatat pertumbuhan lebih moderat karena strategi konservatif.

“BCA bukan melemah, tetapi memilih menjaga stabilitas dengan likuiditas kuat, CASA tinggi, dan risk appetite yang lebih rendah,” ujarnya.

Menurutnya, strategi perbankan ke depan akan semakin selektif di tengah tekanan likuiditas dan biaya dana. Bank dengan pertumbuhan tinggi berpotensi menghadapi kenaikan biaya kredit jika ekspansi tidak terkendali.

“Ke depan, fokus akan bergeser ke efisiensi, optimalisasi CASA, serta diversifikasi fee-based income. Dalam kondisi seperti ini, bank yang mampu menjaga kualitas aset dan margin, bukan sekadar volume kredit, akan lebih sustain,” katanya.

Bank Mandiri (Persero) Tbk. - TradingView
Program Pemerintah 

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, melihat kinerja bank-bank besar, khususnya Himbara, masih menunjukkan daya tahan yang kuat dan bahkan relatif lebih unggul dari sisi pertumbuhan dibandingkan BCA.

Menurutnya, pertumbuhan laba dua digit pada Bank Mandiri dan BRI mencerminkan kuatnya dukungan faktor fundamental, terutama sinergi dengan program pemerintah yang bersifat strategis. 

Bank-bank Himbara dinilai menjadi motor utama dalam penyaluran kredit ke sektor prioritas, termasuk pembiayaan infrastruktur dan pengembangan sektor produktif.

Selain itu, penguatan ekosistem digital melalui berbagai layanan transaksi juga dinilai turut menopang pertumbuhan dana murah dan aktivitas bisnis perbankan.

Di sisi lain, transmisi penurunan suku bunga acuan sepanjang 2025 membantu menjaga biaya dana tetap terkendali, sehingga margin bunga tetap terjaga.

“Kinerja bank Himbara relatif lebih baik karena ditopang sinergi dengan program pemerintah, efisiensi biaya dana, serta ekspansi kredit ke sektor produktif dan UMKM,” ujarnya.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa tantangan tetap membayangi, terutama dari faktor eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya risiko geopolitik global yang dapat berdampak pada profil risiko perbankan.

Lebih lanjut, dia menilai perbedaan kinerja dengan BCA juga dipengaruhi oleh strategi yang lebih konservatif serta efek basis tinggi (high base effect) dari kinerja sebelumnya, sehingga pertumbuhan laba BCA terlihat lebih moderat.

Nafan menyebut ke depan bahwa masing-masing bank dinilai perlu menjaga momentum dengan mengoptimalkan penghimpunan dana murah (CASA) serta tetap selektif dalam penyaluran kredit. 

Bank Himbara diperkirakan akan tetap fokus pada sektor produktif dan UMKM, sementara BCA cenderung menggarap segmen korporasi berkualitas tinggi (blue chip) dengan pendekatan yang lebih berhati-hati, tapi tidak menutup mata tetap menyelami sektor UMKM.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. - TradingView

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Aksi Hari Buruh, Arus Lalu Lintas di Sekitar Monas Dialihkan
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Roblox Jadi Tempat Rekrut Teroris, BNPT Bongkar Modusnya
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Garuda Indonesia Masuk Daftar 25 Maskapai Terbaik Dunia 2026
• 16 jam lalurepublika.co.id
thumb
Paradise Indonesia (INPP) Balikkan Rugi Jadi Laba di Tiga Bulan Pertama 2026
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Deadline 60 Hari Tinggal Hitungan Jam, Trump Tegaskan AS Tak Sedang Berperang dengan Iran
• 17 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.