Jakarta: Potensi krisis energi global akibat gangguan jalur distribusi minyak dunia, seperti penutupan Selat Hormuz, kembali menjadi perhatian. Jalur ini merupakan salah satu rute paling krusial bagi pasokan energi dunia.
Dalam laporan terbaru JPMorgan tahun 2026, Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan ketahanan energi tertinggi. Dari 52 negara konsumen energi terbesar yang dianalisis, Indonesia menempati posisi kedua secara global.
Baca Juga :
Mengenal Deterrent Effect, Strategi Cegah Perang Tanpa TembakanFleksibilitas konsumsi energi dan produksi dalam negeri memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis global. 3. Tiongkok (Skor 76 persen) Tiongkok mengandalkan diversifikasi energi dalam skala besar, mulai dari batu bara, nuklir, hingga energi terbarukan. Infrastruktur yang kuat juga mendukung stabilitas pasokan energi. 4. Amerika Serikat (Skor 70 persen) Amerika Serikat memiliki kapasitas produksi minyak dan gas domestik yang tinggi. Revolusi energi shale membuat ketergantungan terhadap impor menjadi lebih rendah dibandingkan banyak negara lain. 5. Australia (Skor 68 persen) Australia melengkapi daftar ini dengan cadangan energi yang besar, terutama batu bara dan gas. Letak geografisnya juga relatif aman dari gangguan distribusi global. Faktor Penentu Ketahanan Energi Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh cadangan minyak. Beberapa faktor utama yang berperan meliputi:
- Diversifikasi sumber energi
- Ketersediaan produksi domestik
- Ketergantungan terhadap impor
- Stabilitas infrastruktur distribusi
Sobat MTVN Lens, laporan JPMorgan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam menghadapi potensi krisis energi global. Dengan dukungan sumber daya domestik dan diversifikasi energi, Indonesia dinilai mampu bertahan di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Muhammad Fauzan)




