Bagian roket milik SpaceX yang terlepas dan mengambang di luar angkasa diperkirakan akan menabrak Bulan pada Agustus 2026 mendatang.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa puing roket tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bulan maupun wahana antariksa yang masih beroperasi. Namun, tumbukan yang diprediksi terjadi pada 5 Agustus di perbatasan sisi dekat dan sisi jauh Bulan ini bisa memiliki nilai ilmiah meski kecil.
Jika tumbukan tersebut menciptakan kawah baru, para ilmuwan berpeluang mempelajarinya untuk memahami lebih jauh karakteristik permukaan Bulan.
“Peristiwa ini tidak membahayakan siapa pun, tetapi menunjukkan adanya kelalaian dalam pengelolaan sisa perangkat antariksa atau sampah luar angkasa,” ujar Bill Gray, astronom profesional sekaligus pengembang perangkat lunak Project Pluto yang digunakan untuk melacak objek dekat Bumi, dikutip Live Science.
Menurut Gray, pergerakan sampah antariksa pada dasarnya cukup mudah diprediksi karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet lainnya.
Ia menambahkan, tekanan radiasi dari cahaya Matahari memang bisa sedikit menggeser jalur benda, tetapi tidak cukup signifikan untuk mengubah waktu atau lokasi benturan secara drastis.
Sayangnya, kilatan cahaya akibat tumbukan tersebut kemungkinan besar terlalu redup untuk bisa diamati dari Bumi, bahkan dengan teleskop besar. Nilai ilmiah utama justru akan berasal dari analisis kawah baru yang terbentuk.
Ini bukan pertama kalinya Gray memprediksi tumbukan roket di Bulan. Pada 2022, ia berhasil memperkirakan secara akurat waktu dan lokasi tumbukan puing roket yang terjadi pada 4 Maret.
Saat itu, Gray sempat mengira puing tersebut berasal dari roket Falcon 9, namun kemudian diketahui berasal dari roket milik China.
Meski laporan terbaru ini belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang melalui proses peer-review, Gray telah meminta sejumlah astronom untuk meninjau temuannya. Ia memperkirakan puing tersebut akan menghantam Bulan dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam, atau sekitar tujuh kali kecepatan suara di Bumi.
Risiko di Masa DepanSaat ini, tidak ada infrastruktur manusia di Bulan yang bisa terdampak oleh puing tersebut. Namun, situasi ini diperkirakan akan berubah dalam beberapa tahun ke depan.
Amerika Serikat dan China sama-sama berencana meningkatkan misi ke Bulan. Program Artemis milik AS menargetkan misi rutin mulai 2028, sementara China berencana mendaratkan astronotnya pada 2030.
Dengan meningkatnya aktivitas di Bulan, terutama rencana pembangunan pangkalan permanen di wilayah kutub selatan, kawasan tersebut berpotensi menjadi lebih padat dengan lalu lintas wahana, kargo, dan kru.
Kondisi ini menegaskan pentingnya pengelolaan sampah antariksa secara lebih serius. Para ilmuwan menilai bahwa tahap roket bekas sebaiknya diarahkan ke orbit mengelilingi Matahari, bukan dibiarkan mengorbit Bumi atau Bulan.
Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi risiko jangka panjang dari puing luar angkasa yang semakin meningkat seiring berkembangnya aktivitas eksplorasi antariksa.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi luar angkasa juga harus diimbangi dengan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan, termasuk di luar Bumi.




