Tingkat Kelahiran di Salah Satu Kota di Tiongkok Turun 67,4%, Hampir 80% Provinsi Alami Penurunan Populasi pada 2025

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada 29 April, 31 provinsi di Tiongkok merilis data jumlah penduduk tetap hingga akhir tahun 2025. Data menunjukkan bahwa sekitar 80% provinsi mengalami penurunan jumlah penduduk, sementara hanya 7 provinsi yang mencatat pertumbuhan populasi. Bahkan, ada data yang menunjukkan bahwa di sebuah kota tingkat menengah di Provinsi Anhui, jumlah penduduk baru pada kuartal pertama tahun ini hanya 914 orang, turun 67,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.806 orang.

Menurut data yang dipublikasikan berbagai provinsi di Tiongkok, sebanyak 24 provinsi mengalami penurunan populasi dengan tingkat yang berbeda-beda. Di antaranya, Shandong mencatat penurunan sekitar 371.700 orang pada 2025; Jiangsu mengalami penurunan populasi tetap untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, menjadi 85,18 juta jiwa.

Di wilayah tengah, Anhui dan Hubei masing-masing berkurang sekitar 410.000 dan 230.000 orang. Di wilayah barat daya, Sichuan mengalami penurunan hingga 460.000 orang, salah satu yang terbesar dalam data yang tersedia.

Di wilayah timur laut, Liaoning dan Heilongjiang masing-masing berkurang sekitar 240.000 dan 280.000 orang.

Selain itu, provinsi seperti Hunan, Henan, Hebei, Guangxi, dan Jiangxi juga mengalami penurunan populasi dalam berbagai tingkat.

Provinsi-provinsi ini umumnya menghadapi berbagai tantangan seperti arus keluar tenaga kerja muda yang terus berlanjut, percepatan penuaan penduduk, serta rendahnya motivasi untuk memiliki anak, sehingga menimbulkan tekanan besar terhadap keberlanjutan perkembangan demografis.

Sejumlah analis menilai bahwa data ini menunjukkan penurunan populasi bukan lagi fenomena yang terbatas pada wilayah tertentu, melainkan telah meluas lintas wilayah pesisir maupun kawasan industri, menjadi fenomena yang lebih umum.

Data juga menunjukkan bahwa hanya 7 wilayah yang mengalami pertumbuhan populasi, yaitu Guangdong, Zhejiang, Xinjiang, Hainan, Shanghai, Tibet, dan Ningxia.

Namun, di beberapa wilayah tersebut, tingkat kelahiran jauh lebih rendah daripada angka kematian. Pertumbuhan populasi hanya dapat dipertahankan melalui “arus masuk penduduk”. Sebagai contoh, di Shanghai pada 2025 tercatat sekitar 107.000 kelahiran dan 164.000 kematian, sehingga secara alami berkurang sekitar 57.000 orang. Namun, dengan arus masuk penduduk bersih sekitar 108.500 orang, jumlah penduduk tetap masih mencatat pertumbuhan.

Sejak awal tahun ini, penurunan populasi di Tiongkok diperkirakan akan semakin serius. Gambar yang beredar di internet menunjukkan bahwa di kota Ma’anshan, Provinsi Anhui, jumlah kelahiran pada kuartal pertama tahun ini hanya 914 orang, turun 67,4% dibandingkan 2.806 orang pada periode yang sama tahun lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan penurunan jumlah penduduk, sektor pendidikan dasar dan menengah serta real estat menjadi yang pertama merasakan dampaknya. Di berbagai daerah mulai muncul fenomena penutupan taman kanak-kanak, penggabungan sekolah dasar, serta sulitnya menjual properti.

Laporan oleh jurnalis Li Li / Xu Gengwen – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Aktifkan Pertahanan Udara saat Trump Hadapi Deadline Kongres
• 28 menit laludetik.com
thumb
Jemaah Haji Diminta Pahami Tahapan Umrah Saat Tiba di Makkah, Ini Panduannya
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mohamed Salah Absen Sementara, Ini 4 Alternatif Liverpool di Sisi Kanan saat Lawan MU
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Memisahkan Gerbong, Menyelesaikan Masalah?
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Jasa Marga Kebut Tol Yogyakarta-Bawen Usai Dapat Kredit Sindikasi Rp17,92 Triliun
• 14 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.