Bisnis.com, BANDA ACEH — Hari Buruh Internasional atau May Day diperingati setiap 1 Mei di banyak negara, tetapi sejumlah negara justru tidak menjadikannya sebagai hari libur nasional.
Di sejumlah negara, 1 Mei tetap berjalan sebagai hari kerja biasa meskipun tanggal tersebut secara global identik dengan perjuangan buruh. Ada pula negara yang hanya memberi libur sebagian untuk wilayah atau sektor tertentu, serta negara yang merayakan Hari Buruh pada tanggal berbeda.
May Day merupakan hari untuk memperingati perjuangan dan capaian historis para pekerja serta gerakan buruh. Hari tersebut juga dikenal sebagai International Workers’ Day dan diperingati pada 1 Mei di banyak negara, termasuk Indonesia.
Mengutip Britannica, Jumat (1/5/2026), di Amerika Serikat dan Kanada, peringatan serupa dikenal sebagai Labor Day, tetapi tidak digelar pada 1 Mei. Kedua negara tersebut memperingatinya pada Senin pertama September sebagai hari resmi untuk menghormati pekerja.
Secara historis, May Day justru berakar dari Amerika Serikat ketika para pekerja berjuang mengurangi jam kerja yang kerap mencapai 14 jam hingga 20 jam per hari. Tuntutan jam kerja lebih pendek kemudian berjalan seiring dengan desakan kenaikan upah.
Seiring meningkatnya industrialisasi pada awal abad ke-19, para pekerja mulai mengorganisasi diri dalam serikat buruh untuk menuntut kondisi kerja yang lebih manusiawi. Pada 1837, di bawah Presiden Martin Van Buren, pemerintah Amerika Serikat menetapkan hari kerja 10 jam bagi pegawai pemerintah, meski ketentuan itu belum berlaku universal.
Pada 1850-an, tuntutan tersebut berkembang menjadi seruan yang lebih luas untuk hari kerja delapan jam. Gerakan itu tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga meluas ke Australia, tempat para tukang batu berhasil memperoleh hari kerja delapan jam pada 1856.
Dukungan terhadap tuntutan tersebut semakin kuat pada 1860-an ketika berbagai serikat buruh berkumpul di Baltimore untuk membentuk National Labor Union. Dalam pertemuan perdana pada 1866, organisasi itu mengeluarkan resolusi bahwa hari kerja maksimal adalah delapan jam di seluruh negara bagian, sementara Kongres Jenewa dari First International pada tahun yang sama juga mendukung tuntutan serupa.
Puncak gerakan terjadi setelah Federation of Organized Trades and Labor Unions of the United States and Canada menetapkan bahwa mulai 1 Mei 1886, delapan jam menjadi standar kerja legal. Seruan itu memicu aksi mogok massal terorganisasi pada 1 Mei 1886 yang melibatkan hingga 500.000 pekerja dalam sekitar 1.500 aksi, dengan pusat gerakan di Chicago hingga berujung pada konfrontasi di Haymarket Square.
Pada 1889, Second International menetapkan 1 Mei sebagai hari dukungan bagi pekerja untuk mengenang Haymarket Riot di Chicago pada 1886. Lima tahun kemudian, Presiden Amerika Serikat Grover Cleveland, yang tidak nyaman dengan akar sosialis Workers’ Day, menandatangani aturan yang menjadikan Labor Day pada Senin pertama September sebagai hari libur resmi pekerja di AS, dan Kanada kemudian mengikuti langkah tersebut.
Berikut daftar negara yang sudah Bisnis rangkum tidak merayakan Hari Buruh 1 Mei, libur sebagian, hingga yang merayakan di lain hari, mengutip dari Office Holidays.
Negara Tanpa Libur Nasional pada 1 MeiDi negara-negara tersebut, 1 Mei tidak menjadi libur nasional meskipun tanggal tersebut dikenal luas sebagai Hari Buruh Internasional. Daftar negara tersebut meliputi:
1. Amerika Serikat,
2. Kanada,
3. Inggris Raya,
4. Australia,
5. Selandia Baru,
6. Belanda,
7. Irlandia,
8. Denmark,
9. Israel,
10. Qatar,
11. Arab Saudi,
12. Uni Emirat Arab,
13. Jepang
Dalam konteks Amerika Serikat dan Kanada, kondisi tersebut berkaitan dengan penggunaan Labor Day pada Senin pertama September sebagai peringatan resmi untuk pekerja. Hal ini berbeda dengan banyak negara lain yang menjadikan 1 Mei sebagai Hari Buruh atau International Workers’ Day.
Peringatan Hari Buruh tidak selalu berlaku seragam dalam satu negara. Di sebagian wilayah atau sektor, 1 Mei dapat menjadi hari libur, sementara di bagian lain tetap berjalan seperti hari biasa. Negara-negara itu adalah:
1. Swiss,
2. Taiwan,
3. Korea Selatan,
4. India
Negara yang Merayakan Hari Buruh Selain 1 Mei
Selain negara yang tidak meliburkan 1 Mei, ada pula negara yang memperingati Hari Buruh pada tanggal lain atau memiliki rangkaian libur setelah 1 Mei. Beberapa negara tercatat merayakan atau melanjutkan libur Hari Buruh pada 2 Mei hingga 7 Mei 2026.
1. Sabtu, 2 Mei 2026
- Kirgizstan — International Labour Day, dengan keterangan International Workers’ Day.
- Montenegro — Labor Day hari kedua.
- Serbia — Labour Day.
- Slovenia — May Day, dengan keterangan sebagai hari libur negara.
2. Minggu, 3 Mei 2026
Pada 3 Mei 2026, Kirgizstan kembali tercatat memperingati International Labour Day dengan keterangan International Workers’ Day.
3. Senin, 4 Mei 2026
- China — Labour Day, dengan keterangan International Workers’ Day.
- Republik Dominika — Labour Day, dengan keterangan International Workers’ Day.
- Kirgizstan — International Labour Day, dengan keterangan International Workers’ Day.
4. Selasa, 5 Mei 2026
Pada 5 Mei 2026, China kembali tercatat memiliki Labour Day. Hari tersebut diberi keterangan “compensated by Sat May 9” atau dikompensasikan pada Sabtu, 9 Mei.
5. Kamis, 7 Mei 2026
Pada 7 Mei 2026, Mesir tercatat memperingati Labour Day dengan keterangan International Workers’ Day.
May Day dalam Perkembangan Global
Di Eropa, 1 Mei secara historis berkaitan dengan festival pagan pedesaan. Namun, makna awal itu secara bertahap bergeser menjadi peringatan modern yang berhubungan dengan gerakan buruh.
Di Uni Soviet, para pemimpin negara merangkul hari libur baru tersebut karena dinilai dapat mendorong pekerja di Eropa dan Amerika Serikat untuk bersatu melawan kapitalisme. Hari itu kemudian menjadi perayaan besar di Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, termasuk parade besar di Lapangan Merah Moskow yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah dan Partai Komunis, sekaligus menjadi ajang menampilkan kekuatan militer Soviet.
Di Jerman, Hari Buruh menjadi hari libur resmi pada 1933 setelah kebangkitan Partai Nazi. Ironisnya, sehari setelah menetapkan hari libur tersebut, Jerman justru membubarkan serikat-serikat buruh bebas dan secara efektif menghancurkan gerakan buruh Jerman.
Setelah Uni Soviet bubar dan pemerintahan komunis di Eropa Timur runtuh pada akhir abad ke-20, perayaan besar May Day di kawasan tersebut menurun. Namun, di banyak negara, May Day tetap diakui sebagai hari libur publik dan dirayakan melalui piknik, pesta, demonstrasi, serta unjuk rasa untuk mendukung pekerja. (Arief Budi Mulia)





