Aremania melakukan demonstrasi di latihan Arema FC di Lapangan DFP, Pakis, Kabupaten Malang, pasca-kekalahan melawan Persebaya. Aremania berdemo membawa berbagai poster tuntutan dan banner, pada Jumat pagi (1/5/2026).
Mereka menyuarakan kritikan ke pemain dan manajemen pasca Arema FC kalah dari Persebaya di Derby Jawa Timur, Selasa (28/4/2026) lalu. Aremania meminta para pemain berbenah di laga berikutnya yang juga menghadapi sesama tim Jawa Timur, Persik Kediri.
"Arema butuh tipikal petarung di Lapangan," teriak salah satu Aremania dalam aksinya di lapangan saat tim kesayangannya berlatih.
Selama kurang lebih 30 menit massa Aremania itu menyuarakan aspirasinya. Mereka juga sempat berinteraksi dan ditemui pemain. Bahkan Pelatih Arema FC Marcos Santos juga memberikan respon dan meminta maaf langsung kepada Aremania yang datang.
Setelah aspirasinya didengar pemain dan pelatih, Aremania langsung membubarkan diri dan pulang dari Lapangan DFP, Pakis. Tak ada insiden apapun, meskipun para suporter sempat menyalakan flare hingga 'bom smoke'.
Menurut Marcos Santos, ia sebagai pelatih juga merasa malu sekali karena timnya harus dipikul telak oleh Persebaya empat gol tanpa balas. Dirinya mengakui bila gol kedua dan selanjutnya yang diderita Arema FC karena kesalahan timnya.
"Kami minta maaf ke Aremania, malu sekali. Sudah lihat di babak pertama dan kedua, tim kami lihat baca permainan. Babak kedua gol pertama kita salah," kata Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, nama lengkapnya ke para suporter.
Marcos mengatakan, dari sisi pertahanan timnya juga mudah ditembus dan seolah kehabisan energi, usai melawan Persib Bandung. Faktornya kata Marcos, juga dikarenakan kelelahan usai menjalani pertandingan beruntun menghadapi Persis Solo dan Persib Bandung, dalam rentang waktu 10 hari terakhir.
"Situasi di dalam lapangan semua pemain hampir agak capek kelihatan. Pemain Arema nggak berjuang untuk derby, saya malu, saya minta maaf," tuturnya.
Sementara itu, Matheus Blade Gelandang Arema FC mengakui timnya juga kalah luar dalam ketika menghadapi Persebaya Surabaya. Bagi Blade, Arema FC tak mempersiapkan laga ini seolah laga derby, tapi seperti laga biasa di kompetisi.
"Arema datang untuk main pertandingan biasa, tapi Persebaya datang untuk main derby. Itu yang membuat beda itu. Jadi semua lihat, saya minta maaf juga malu sekali," ucap Blade.
Di sisi lain, General Manager Arema FC Muhammad Yusrinal Fitriandi mengungkapkan, sebagai manajemen Singo Edan memahami rasa kekecewaan Aremania hingga mengadakan aksi demonstrasi. Ia pun telah melakukan evaluasi bersama jajaran manajemen.
"Kami sangat memahami kekecewaan Aremania. Harapan besar semula ada pada laga derby ini, sebab setelah tren positif saat melawan Persib, namun hasilnya beda," ucap Yusrinal Fitriandi.
Dirinya menyampaikan, permohonan maaf yang tulus kepada Aremania dan seluruh pecinta bola di Malang Raya. Ia mengapresiasi cara Aremania dalam menyampaikan kritik yang konstruktif dan tetap menjaga kondusifitas.
"Kami berterima kasih kepada Aremania yang luar biasa dalam memberikan dukungan serta tetap respect dengan menyampaikan evaluasi secara elegan. Kami mengajak semua pihak untuk melihat ini murni sebagai persoalan teknis sepak bola," terang Inal, sapaan akrabnya.
"Kami instruksikan secara tegas kepada tim agar empat laga tersisa harus menghasilkan poin maksimal sebagai pembuktian profesionalisme mereka,"pungkasnya.





