Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan empat pilar kebangsaan tidak hanya bermakna dalam konteks politik dan hukum, tetapi juga memiliki dimensi ekologis yang kuat.
“Selama ini, kita sering hanya memaknai empat pilar dalam konteks politik, hukum, dan kehidupan sosial saja. Namun, marilah kita melihatnya dari sudut yang lebih dalam dan lebih mendasar,” kata Lestari dalam keteranganya di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila, konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, sejatinya mencerminkan hubungan manusia dengan sesama, dengan Tuhan, serta dengan alam.
Ia menjelaskan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tidak hanya tercermin dalam relasi antarmanusia, tetapi juga dalam kemampuan menjaga lingkungan.
“Kita tidak bisa menyebut diri beradab jika merusak ruang hidup sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Meneguhkan nilai kebangsaan di tengah arus perubahan
Lestari menambahkan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Namun, ia menekankan kemakmuran sejati adalah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang, bukan yang bersifat sesaat.
Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi perubahan iklim, tetapi juga telah memasuki fase krisis lingkungan yang lebih luas.
“Krisis ini bukan hanya soal alam, tetapi juga cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara memandang kehidupan,” katanya.
Baca juga: Anggota MPR RI ajak perempuan Banyumas pahami empat pilar kebangsaan
Dalam rangka sosialisasi empat pilar kebangsaan, Lestari menghadiri kegiatan nonton bersama film “Maira Generasi Penjaga Bumi” di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (30/4).
Menurut dia, film tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi refleksi hubungan manusia dengan hutan dan alam, serta konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak hanya menonton, tetapi juga memahami dan mengaitkan pesan tersebut dengan kehidupan sehari-hari.
“Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan keharusan. Menjaga lingkungan berarti menjaga bangsa,” ujarnya.
Baca juga: Sekjen MPR: Empat Pilar Kebangsaan perkuat moderasi beragama dan NKRI
Baca juga: Anggota MPR: Empat Pilar tekankan perbedaan justru sumber kekuatan
“Selama ini, kita sering hanya memaknai empat pilar dalam konteks politik, hukum, dan kehidupan sosial saja. Namun, marilah kita melihatnya dari sudut yang lebih dalam dan lebih mendasar,” kata Lestari dalam keteranganya di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila, konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, sejatinya mencerminkan hubungan manusia dengan sesama, dengan Tuhan, serta dengan alam.
Ia menjelaskan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tidak hanya tercermin dalam relasi antarmanusia, tetapi juga dalam kemampuan menjaga lingkungan.
“Kita tidak bisa menyebut diri beradab jika merusak ruang hidup sendiri,” ujarnya.
Baca juga: Meneguhkan nilai kebangsaan di tengah arus perubahan
Lestari menambahkan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Namun, ia menekankan kemakmuran sejati adalah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang, bukan yang bersifat sesaat.
Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya menghadapi perubahan iklim, tetapi juga telah memasuki fase krisis lingkungan yang lebih luas.
“Krisis ini bukan hanya soal alam, tetapi juga cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara memandang kehidupan,” katanya.
Baca juga: Anggota MPR RI ajak perempuan Banyumas pahami empat pilar kebangsaan
Dalam rangka sosialisasi empat pilar kebangsaan, Lestari menghadiri kegiatan nonton bersama film “Maira Generasi Penjaga Bumi” di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (30/4).
Menurut dia, film tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi refleksi hubungan manusia dengan hutan dan alam, serta konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak hanya menonton, tetapi juga memahami dan mengaitkan pesan tersebut dengan kehidupan sehari-hari.
“Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan keharusan. Menjaga lingkungan berarti menjaga bangsa,” ujarnya.
Baca juga: Sekjen MPR: Empat Pilar Kebangsaan perkuat moderasi beragama dan NKRI
Baca juga: Anggota MPR: Empat Pilar tekankan perbedaan justru sumber kekuatan





