KYIV, KOMPAS.TV - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dikaitkan dengan kasus penyelundupan senjata yang berhasil dicegat kepolisian Ukraina.
Kepolisian Nasional Ukraina pada Selasa (28/5/2026) mengungkapkan telah menggagalkan rute penyelundupan yang disebut dikendalikan panglima perang separatis Donbas sekaligus pemimpin de facto Republik Rakyat Donbas, Denis Pushilin.
Operasi penggerebekan yang dilakukan Kepolisian Nasional Ukraina itu bernama Operasi Cangkang Hitam.
Dilansir NK News, Kamis (30/4/2026), polisi Ukraina menduga Pushilin menyediakan senjata bagi sejumlah pejabat dari negara-negara yang menjadi sekutu Rusia, termasuk Kim Jong-un yang dilaporkan tengah menjalin hubungan mesra dengan Moskow.
Baca Juga: Presiden Iran Sebut Sulit Kembali Percaya AS, Merasa Telah Dibohongi Dua Kali
Berdasarkan laporan polisi, jaringan penyelundup itu telah mendapatkan senjata dari wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, dan satu negara Eropa sejak Januari lalu.
Para penyelundup itu dikatakan memperoleh pistol tipe Glock yang menggunakan peluru Flobert (daya rendah), dari Slovakia.
Peluru ini biasanya digunakan pada senjata yang tidak mematikan atau senjata untuk latihan.
“Mereka kemudian mendistribusikan senjata api tersebut kepada organisasi kriminal, kelompok bersenjata ilegal, dan sebagai hadiah kepada individu yang tidak memiliki hak hukum untuk memiliki senjata api kelas militer,” bunyi pernyataan kepolisian Ukraina.
Selain kepada Kim Jong-un, senjata-senjata tersebut juga disebut ditujukan kepada mantan Presiden Suriah Bashar Al-Assad, dan sejumlah pejabat senior Rusia, seperti Dmitry Medvedev, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, dan pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov.
Penulis : Haryo Jati Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : NK News
- kim jong-un
- ukraina
- kepolisian nasional ukraina
- penyelundupan senjata
- denis pushilin
- Korea Utara





