Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan peluang hujan di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih tergolong tinggi meski kalender musim sudah memasuki kemarau pada dasarian I Mei 2026 atau periode 1 sampai 10 Mei.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Suci Agustiarini mengatakan peluang curah hujan di atas 50 milimeter per dasarian mencapai 80 hingga lebih dari 90 persen dan merata di hampir seluruh wilayah NTB.
"Kami memprakirakan ada peluang terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian sebesar 60 sampai 90 persen yang terjadi di hampir seluruh wilayah Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa," ujarnya di Mataram, Jumat.
Baca juga: Fenomena gangguan atmosfer picu cuaca ekstrem di NTB
Suci menjelaskan pola cuaca belum sepenuhnya kering meskipun sebagian wilayah NTB mulai memasuki periode musim kemarau sejak April 2026, bahkan sebagian daerah justru masih berada dalam fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau atau periode pancaroba.
"Potensi hujan masih terjadi hingga awal Mei 2026. Kami imbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis," ujar Suci.
BMKG melaporkan kondisi iklim global dan regional saat ini masih relatif netral. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun 2026.
Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 juga menunjukkan kondisi ENSO netral dan diprediksi berpotensi berkembang menuju El Nino pada periode Mei hingga Juli 2026.
Suci menuturkan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif serta dominasi angin timuran turut mempengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.
"Anomali suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia dalam kondisi normal hingga hangat. Sedangkan wilayah perairan selatan Jawa, Bali, dan NTB lebih dingin," papar dia.
Baca juga: BMKG: Hujan masih berpotensi guyur NTB di penghujung Maret
Baca juga: BMKG NTB ingatkan potensi cuaca berawan hingga hujan saat arus mudik
Pada dasarian III April 2026 atau periode 21-30 April, BMKG mencatat curah hujan di NTB cenderung bervariasi dari kategori rendah hingga tinggi dengan sifat hujan secara umum berada pada kategori atas normal.
Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, sebesar 277 milimeter per dasarian. Sedangkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut masih berada pada kategori sangat pendek, yakni berkisar antara satu hingga lima hari.
"Hari tanpa hujan yang pendek menandakan frekuensi hujan cukup sering terjadi di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat," ucap Suci.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Suci Agustiarini mengatakan peluang curah hujan di atas 50 milimeter per dasarian mencapai 80 hingga lebih dari 90 persen dan merata di hampir seluruh wilayah NTB.
"Kami memprakirakan ada peluang terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian sebesar 60 sampai 90 persen yang terjadi di hampir seluruh wilayah Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa," ujarnya di Mataram, Jumat.
Baca juga: Fenomena gangguan atmosfer picu cuaca ekstrem di NTB
Suci menjelaskan pola cuaca belum sepenuhnya kering meskipun sebagian wilayah NTB mulai memasuki periode musim kemarau sejak April 2026, bahkan sebagian daerah justru masih berada dalam fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau atau periode pancaroba.
"Potensi hujan masih terjadi hingga awal Mei 2026. Kami imbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis," ujar Suci.
BMKG melaporkan kondisi iklim global dan regional saat ini masih relatif netral. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun 2026.
Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 juga menunjukkan kondisi ENSO netral dan diprediksi berpotensi berkembang menuju El Nino pada periode Mei hingga Juli 2026.
Suci menuturkan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif serta dominasi angin timuran turut mempengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.
"Anomali suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia dalam kondisi normal hingga hangat. Sedangkan wilayah perairan selatan Jawa, Bali, dan NTB lebih dingin," papar dia.
Baca juga: BMKG: Hujan masih berpotensi guyur NTB di penghujung Maret
Baca juga: BMKG NTB ingatkan potensi cuaca berawan hingga hujan saat arus mudik
Pada dasarian III April 2026 atau periode 21-30 April, BMKG mencatat curah hujan di NTB cenderung bervariasi dari kategori rendah hingga tinggi dengan sifat hujan secara umum berada pada kategori atas normal.
Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, sebesar 277 milimeter per dasarian. Sedangkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut masih berada pada kategori sangat pendek, yakni berkisar antara satu hingga lima hari.
"Hari tanpa hujan yang pendek menandakan frekuensi hujan cukup sering terjadi di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat," ucap Suci.





