Liputan6.com, Jakarta - Wajah-wajah anak di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh menyiratkan semangat dalam belajar. Meski kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4, tempat mereka menuntut ilmu belum sepenuhnya bisa kembali digunakan usai diterjang banjir, namun bagi mereka semua itu bukan halangan.
Di sekolah darurat Rumoh Harapan Siap Sekolah, mereka kembali menata masa depan. Belajar di antara endapan lumpur dan kayu-kayu sisa banjir.
Advertisement
Rumoh Harapan Siap Sekolah dibangun oleh lembaga Dompet Dhuafa bersama dengan mitra untuk memulihkan pendidikan usai bencana banjir menerjang, khususnya sekolah-sekolah yang rusak akibat banjir atau bencana lainnya. Program ini menyediakan sekolah darurat yang aman dan layak agar proses belajar mengajar tetap berlanjut.
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh Rizki Fauzan mengatakan, setidaknya ada dua lokasi pembangunan Rumoh Harapan di Pidie Jaya. Pertama MIN 1 sebanyak dua lokal atau ruangan kelas. Kedua adalah MIN 4 juga dua ruangan kelas.
"Karena ruangan porak-poranda diterjang banjir. Bahkan ketinggian lumpur sampai dengan satu meter lebih. Pada saat itu yang urgent adalah ruangan darurat," kata Fauzan kepada Liputan6.com, Jumat (1/5/2026).
Sekolah darurat seluas 7 x 6 meter persegi dibangun di lahan kosong belakang MIN 4. Sebanyak lima pekerja dikerahkan. Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam membangun sekolah rakyat adalah ketersediaan material. Dompet Dhuafa membeli kebutuhan bangunan hingga ke Medan. Akhirnya Rumoh Harapan selesai dibangun dalam waktu lima hari.
"Distribusi material sulit, bahkan belanja material hingga di Medan, seperti besi. Terutama besi holo," lanjutnya.
Selain bantuan sekolah darurat, Dompet Dhuafa juga menyalurkan bantuan alat tulis, sound system untuk pengeras suara dan bantuan alat-alat sekolah juga media belajar.




