”Kalian boleh maju dalam pelajaran, mencapai deretan gelar yang panjangnya sekilometer, tapi tanpa mencintai sesama manusia, kalian hanya akan menjadi mesin”. Kutipan dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu dicetak pada selembar vinil yang digantungkan di pintu masuk pameran foto Pinggir di JNM Bloc, Yogyakarta, Jumat (1/5/2026). Kutipan tersebut membuat siapa pun yang mendatangi acara itu tertegun sejenak.
Tulisan itu seolah menggambarkan upaya para siswa yang berusaha menyempatkan berkreasi melalui fotografi di tengah kesibukan mereka. Melalui bidikan kamera yang kemudian disajikan dalam lembaran foto, mereka berusaha menggugah benak para pengunjung pameran agar sejenak memperhatikan secara lebih lekat berbagai hal di sekitar yang mungkin terlupa.
Kegiatan ini menghadirkan karya 36 siswa SMA Kolese De Britto yang tergabung dalam De Britto Photography Club. Melalui sudut pandang dari balik jendela bidik kamera, mereka berusaha sekuat tenaga mengejawantahkan judul pameran itu ke dalam 46 karya foto yang dipajang nyaris sejajar.
Pameran tersebut mengangkat tema tentang sejumlah sosok atau pekerjaan yang termarjinalkan serta bermacam hal dalam kehidupan yang kerap luput dari sorotan masyarakat. Tidak melulu tentang manusia, namun para fotografer muda ini juga mengangkat fenomena tentang sejumlah teknologi atau barang yang ditinggalkan karena dinilai telah usang.
Christoforus Marvelino, misalnya, menampilkan foto aktivitas loper koran yang tengah menawarkan dagangannya kepada seorang penumpang mobil yang tengah mengakses koran digital. Melalui karya berjudul ”Yang Ditawarkan, Yang Diabaikan” itu, Marvelino rupanya berusaha menampilkan sisi kehidupan para loper koran yang keberadaannya semakin tergerus oleh perkembangan informasi digital.
Karya itu berseberangan dengan foto karya Vitus Farrel RP yang menampilkan fasilitas telepon umum koin di tepi jalan. Foto tersebut seolah menyuarakan bayang-bayang kepunahan fasilitas publik itu di tengah pesatnya perkembangan teknologi telepon seluler.
Sejumlah foto karya anggota DPC lainnya mengangkat isu sampah. Instalasi seni berupa sampah diikutsertakan di dekat bingkai foto yang dipajang untuk memperkuat pesan yang ingin mereka sampaikan.
Menurut ketua pameran, Devdan Maraville, proses berburu foto para peserta pameran ini berlangsung selama dua bulan. Mereka berburu foto di seputaran Yogyakarta atau di sekitar daerah asal mereka dan didorong untuk menjabarkan tema pameran itu agar dapat menemukan foto-foto yang bersifat humanis.
Menurut Rektor SMA Kolese De Britto Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo SJ, karya yang ditampilkan menjadi bukti bahwa para siswa masih memiliki kepedulian terhadap orang-orang yang terpinggirkan dan sesuai dengan pendidikan karakter yang selama ini diterapkan. ”Foto yang dipamerkan tidak sekadar menarik secara artistik, tapi juga harus bermakna serta memberikan ruang bagi keadilan pada setiap eksistensi yang selama ini tersembunyi di dalam bayang-bayang,” kata Pitoyo.
Pameran tersebut berlangsung hingga 3 Mei 2026. Ajang ini menjadi oase tentang masih adanya kepedulian sosial bagi kaum termarjinalkan yang ditampilkan secara visual oleh para fotografer muda.





