Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah dengan menembus level Rp17.400 per dolar AS. Data pergerakan pasar pada tanggal 5 Mei 2026 menunjukkan rupiah melemah hingga kisaran Rp17.425 per dolar AS, menandai penurunan sebesar 0,35 persen dari penutupan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) memastikan pergerakan nilai tukar rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.
“Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso (-4,24 persen), Indonesia rupiah (-3,65 persen), dan Korea won (-2,29 persen),” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa, 05 Mei 2025.
Dalam pernyataannya, Erwin menegaskan bahwa pihaknya akan terus di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Bank sentral juga terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,” kata Erwin.
Eskalasi Konflik di Timur Tengah Penyebab Pelemahan RupiahSementara itu Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan satu faktor utama di balik pelemahan rupiah adalah meningkatnya ketegangan dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, yang secara langsung mempengaruhi pasar global dan sentimen investor.
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ucapnya di Jakarta, Selasa. Mengutip ANTARA
Sebuah laporan menyebutkan bahwa telah terjadiserangan drone di Uni Emirat Arab (UEA) oleh pihak yang diduga berkaitan dengan Iran menimbulkan kekhawatiran atas kestabilan pasokan minyak dunia. Kebakaran di salah satu zona minyak di Fujairah sebagai dampak langsung serangan ini memicu gejolak pasar energi global.
Namun, sumber militer senior Iran menyatakan pihaknya tidak pernah dan saat ini tidak berencana menyerang UEA.
Disisi lain dari laporan Sputnik, pasukan bersenjata AS telah melepaskan tembakan terhadap dua kapal sipil yang sedang mengangkut barang dari Khasab, Oman, menuju Iran hingga menewaskan lima orang.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan Iran telah menembaki kapal perang AS dan kapal komersial, sehingga Amerika membalas tembakan dan menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran.
Namun, stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB, mengutip sumber militer senior setempat yang menyebut pernyataan Amerika itu tidak benar. Iran dinyatakan hanya mencegah kapal-kapal AS melintas di jalur air itu dengan menembakkan dua rudal ke arah satu kapal perang AS.
Baca Juga:Ramai Isu Guru Non-ASN Dirumahkan Pada 2027, Kemendikdasmen Buru-Buru Klarifikasi





