Sempat Buron, Pengasuh Pesantren Ndolo Kusumo Pati Berhasil Dibekuk di Wonosobo

narasi.tv
1 minggu lalu
Cover Berita

Setelah sempat buron, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pati, Jawa Tengah, berhasil menangkap pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo Kecamatan Tlogowungu, Pati, berisinial AS, tersangka dugaan pelecahaan dan pencabulan terhadap santri di tempat pelariannya di Kabupaten Wonogiri, Jateng, Kamis, 07 Mei 2026.

Dalam vidoe yang beredar, tersangka AS terlihat mengenakan jaket warna hitam dengan kemeja batik cokelat. Kedua tangan AS terikat atau diborgol.

Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi dalam keterangannya mengungkapkan jika tersangka mangkir dari panggilan pemeriksaan pada Senin, 04 Mei 2026, sehingga Polresta Pati berencana melayangkan surat pemanggilan kedua pada 07 Mei 2026.

Namun, karena tersangka diduga tidak ada di tempat atau diduga bersembunyi di luar kota, akhirnya ada upaya penjemputan paksa terhadap tersangka berinisial AS tersebut.

Kronologi Kasus Pelecehan Santriwati

Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengasuh pondok pesantren ini mulai terungkap setelah seorang korban alumni melaporkan dugaan pencabulan pada September 2024. Namun, selang setahun, perkara ini tidak ada perkembangan.

"Tahun kemarin 2025, bapaknya datang bertanya perkembangan kasus ini, karena sejak 24 September 2024 kemudian sampai September 2025--setahun--kasusnya belum ada perkembangan," Terang Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) kata Hartono.

Dalam perjalanannya juga sempat mengalami kendala akibat adanya upaya penyelesaian secara kekeluargaan, sehingga beberapa saksi menarik keterangannya. Hingga saat baru satu korban yang secara resmi melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian. Meski demikian, Polresta Pati membuka ruang seluas-luasnya bagi korban lain ataupun saksi yang memiliki informasi tambahan untuk melapor, dengan jaminan kerahasiaan identitas.

Sementara itu menurut keterangan kuasa hukum korban, Ali Yusron menyebut terdapat sekitar 8 orang saksi yang melaporkan secara resmi, namun diperkirakan jumlah korban mencapai 30 hingga 50 orang santriwati.

"Korban aduan itu adalah 8 orang. Sebetulnya, 8 orang korban itu dari keterangan saksi, korban lebih dari 30 sampai 50 santriwati di bawah umur kelas 1 kelas 2 SMP," terang dia.

Selain itu, Ali juga menjelaskan mayoritas santri di ponpes itu berasal dari keluarga belakang sosial-ekonomi yang rendah dan yatim piatu. Mereka tinggal di ponpes itu agar mendapatkan pendidikan gratis.

"Modusnya adalah dia (korban) diakui gurunya harus tunduk dan patuh, tetapi dengan modus pencabulan dan ada bilang pemerkosaan," ucap Ali.

Baca Juga:Fakta Medis Influenza Punya Dampak Lebih Serius Dibanding Flu Biasa

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa M6,4 Mengguncang Laut Banda Maluku, Ini Penjelasan BMKG
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Satgas PKH Setor Rp 10,2 T ke Negara, Sahroni: Ini Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Waka MPR: SMAN 1 Pontianak Tolak Final Ulang LCC, Kami Segera Putuskan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Laris Manis, Hampir 50 Ribu Tiket Whoosh Ludes di Libur Long Weekend
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Layanan Samsat DKI Jakarta Masih Libur Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Jadwal Bukanya
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.