Dobrak Bias Gender, Perjalanan Susi Susanti Jadi Atlet Hingga Gantung Raket

kumparan.com
5 bulan lalu
Cover Berita

Susi Susanti merupakan legenda atlet bulu tangkis yang berhasil menorehkan berbagai prestasi yang mengharumkan nama Indonesia. Perempuan asal Tasikmalaya ini berhasil membawa pulang medali emas untuk Indonesia di ajang Olimpiade. Saat itu, Susi berhasil memenangkan pertandingan Olimpiade Barcelona 1992.

Tak hanya itu, ia juga menorehkan berbagai prestasi gemilang di ajang global lainnya, seperti menjuarai turnamen All England sebanyak 4 kali dari 1990-1994. Puluhan medali emas, perak, dan perunggu membuatnya dijuluki 'Ratu Bulu Tangkis Indonesia'.

Susi juga dikenal dengan kelincahan dan keanggunan saat bertanding, sehingga ia disebut sebagai ‘Balerina Bulu Tangkis’. Namun, untuk mencapai posisi tersebut bukanlah suatu hal yang mudah.

Melalui acara “Her Strength, Her Light” by ParagonCorp pada 20 April 2026, Susi menceritakan perjuangannya dalam mencapai posisi yang gemilang ini di tengah dominasi laki-laki.

Perjuangan Susi Susanti di tengah bias gender

Sekitar era 1980-an, dunia olahraga masih didominasi oleh laki-laki. Pada masa itu, atlet perempuan, termasuk Susi Susanti, kerap kesulitan mendapatkan kesempatan bertanding karena kemampuan mereka dianggap kurang mumpuni.

Hal ini dipengaruhi oleh minimnya prestasi atlet perempuan yang menonjol pada saat itu, sehingga perhatian lebih banyak tertuju pada atlet laki-laki. Meski diliputi bias gender, Susi tak pantang menyerah, ia justru terus berlatih demi membuktikan kemampuannya.

Susi dan atlet perempuan lainnya harus berlatih lebih keras agar dipercaya kemampuannya. Mereka latihan 'mati-matian' agar dapat bertanding di ajang kejuaraan.

Prosesnya pun tak instan, perempuan kelahiran 1971 ini mengungkapkan kalau keberhasilan yang sesungguhnya hanya bisa diraih melalui proses bertahap, step by step.

“Kita tidak dapat kesempatan, tapi bagaimana kita bisa membuktikan, kita bekerja keras, mungkin step by step. Tidak langsung jadi juara, tapi dari situ kita push punya semangat untuk maju dan melakukan suatu perubahan,” tambahnya.

Latihan dan kerja kerasnya membuahkan hasil yang gemilang, Susi berhasil memenangkan berbagai turnamen dan pulang dengan medali. Ia pun turut mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Meski demikian, ia punya nasihat dari orang tuanya:

Memutuskan gantung raket

Pada 1998, Susi memutuskan gantung raket saat hamil anak pertama. Ia meninggalkan segala prestasi di bidang bulu tangkis dan menata hidupnya kembali dari nol.

“Pada saat saya memutuskan pensiun, akhirnya saya harus berusaha lagi dari nol, itu merupakan suatu perjuangan,” ungkap Susi.

Bersama sang suami, Alan Budikusuma, Susi lantas merilis brand perlengkapan olahraga bernama Astec. Lewat kerja keras, keyakinan, dan niat tulus, Susi kembali membuktikan bahwa ia bisa memberikan hasil terbaik meski tak lagi bertanding di lapangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aramco Bidik Rp160 Triliun dari Jual Aset Properti, Kantor Pusat yang Diserang Houthi Masuk Radar
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Mendagri Prancis Peringatkan Potensi Kerusuhan dalam Demo Lanjutan di Paris
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
MUI dan KLH Gagas Tobat Ekologis untuk Percepat Pemulihan Kerusakan Lingkungan
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota Komisi XIII DPR Minta Imigrasi Perkuat Pengawasan Izin Tinggal WNA
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Kecam Keras Ruben Onsu dan Sarwendah, Komnas Anak Wanti-wanti Hal Ini: Tidak Patut Dicontoh!
• 13 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.