JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan, hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) seperti yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menjelaskan, kasus yang terjadi di Indonesia adalah tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus.
"Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional," ujar Andi dalam konferensi pers dari, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (11/5/2026).
Baca juga: Kemenkes soal Hantavirus: Masyarakat Tidak Perlu Panik, tapi Tetap Harus Waspada
Ia menjelaskan, Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe HPS yang disebabkan karena strain Andes virus.
Dalam penelitian, Hantavirus HPS dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.
Sementara itu, Hantavirus tipe HFRS di Asia dan Indonesia hingga kini belum ada bukti penularan antar-manusia.
"Saya sampaikan bahwa untuk tipe HFRS yang terjadi di Asia maupun Eropa, termasuk yang sudah ada kasusnya sejak tahun 1991 di Indonesia, itu belum ada bukti terjadi penularan antar manusia," ujar Andi.
Baca juga: Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar: Bukan Pandemi Baru, Tak Perlu Panik Termakan Konspirasi
Kendati demikian, tetap ada faktor risiko penularan Hantavirus tipe HFRS lewat kontak dengan tikus atau celurut alias curut melalui gigitan, urine, feses, maupun debu yang telah terkontaminasi.
"Ada gambarnya bagaimana pekerjaan (berisiko) yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, petani, juga dengan daerah yang tergenang banjir, aktivitas di area berisiko seperti ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya," ujar Andi.
Namun, Kemenkes meminta masyarakat tidak panik dan tetap waspada terhadap kasus Hantavirus yang tengah terjadi.
"Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan," ujar Andi.
Baca juga: Kemenkes Minta Kontak Erat Kasus Hantavirus Jalani WFH dan Karantina
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menegaskan bahwa wabah hantavirus yang terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan awal dari pandemi baru.
Meski telah memakan korban jiwa, badan kesehatan PBB tersebut menyatakan risiko kesehatan masyarakat secara umum masih tergolong rendah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




