EtIndonesia. Kapal pesiar Belanda “Hondius” mengalami wabah virus pada April lalu. Pada 10 Mei, para penumpang dan awak kapal turun secara bertahap dan kembali ke negara masing-masing. Pihak Prancis mengkonfirmasi bahwa satu orang menunjukkan gejala infeksi saat berada dalam penerbangan kembali ke Prancis.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis, lima penumpang asal Prancis dari kapal pesiar tersebut tiba di sebuah rumah sakit di wilayah utara Paris pada Minggu pagi.
Mereka akan menjalani isolasi selama 72 jam untuk pemeriksaan menyeluruh, lalu melanjutkan karantina mandiri di rumah selama 45 hari.
Pejabat menyatakan bahwa para penumpang itu tiba di Pulau Tenerife, Spanyol, pada pagi hari 10 Mei tanpa menunjukkan gejala infeksi. Mereka kemudian diantar menggunakan bus militer menuju bandara untuk pulang tanpa melakukan kontak dengan masyarakat umum.
“Tujuan kami adalah menurunkan seluruh penumpang kecuali 30 awak kapal, agar proses pemulangan dapat selesai sebelum pukul 7 malam besok. Setelah itu kapal akan melanjutkan pelayaran. Kami juga berencana menempatkan seorang tenaga medis tambahan di kapal, kemungkinan seorang perawat dari Belanda, untuk mendukung 30 awak kapal yang akan berlayar menuju Belanda,” ujar Direktur sementara Departemen Manajemen Ancaman Epidemi World Health Organization, Maria Van Kerkhove.
Menteri Kesehatan Prancis mengatakan bahwa masa inkubasi hantavirus mencapai enam minggu. Oleh karena itu, penumpang yang menunjukkan gejala akan menjalani isolasi selama enam minggu guna memastikan apakah benar terinfeksi hantavirus.
Saat ini, Turki, Inggris, Irlandia, dan negara lainnya telah menjemput wisatawan mereka dari kapal “Hondius” di Spanyol.
Dugaan Hantavirus Hasil Rekayasa Laboratorium, Vaksin PKT Menimbulkan KecurigaanKapal pesiar “MV Hondius” berangkat dari Argentina pada 1 April. Berdasarkan data WHO yang diumumkan pada 7 Mei, terdapat delapan orang di kapal yang terinfeksi dan tiga di antaranya meninggal dunia. Dari delapan kasus tersebut, lima dipastikan terinfeksi hantavirus tipe Andes.
Sementara itu, pada Maret tahun ini, Universitas Kedokteran Militer Angkatan Udara PKT pernah mempublikasikan secara besar-besaran artikel yang mengklaim berhasil mengembangkan vaksin asam nukleat untuk hantavirus. Artikel tersebut baru-baru ini kembali beredar di internet. Penelitian itu didukung oleh Program Riset dan Pengembangan Utama Nasional Tiongkok serta Dana Nasional Ilmu Pengetahuan Alam Tiongkok.
Pihak luar menduga wabah hantavirus kali ini mungkin terkait dengan laboratorium PKT, dan tidak menutup kemungkinan merupakan hasil rekayasa buatan manusia yang kemudian bocor secara tidak sengaja.
Dilaporkan oleh reporter NTD Television, Yu Liang.





