Jakarta: Hantavirus bukanlah virus baru. Tidak menimbulkan adanya penyakit jenis baru. Tapi virus ini dikenal sebagai patogen langka yang memiliki tingkat risiko kematian cukup tinggi. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Dan dapat menyebabkan gangguan berat pada paru-paru, ginjal hingga jantung dan juga peredaran darah manusia.
Lalu seberapa berbahayanya hantavirus ini? Bagaimana penyebarannya? Dan apa yang harus kita lakukan untuk mencegah penularannya?
Apa hantavirus dan bagaimana penyebarannya?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan juga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, terutama tikus atau mencit, yang bila tertular pada manusia dapat menyebabkan penyakit yang cukup berat. Hewan pengerat ini menjadi reservoir atau pembawa alami dari hantavirus.
Ada beberapa jenis atau varian hantavirus. Artinya kalau kemudian virus ini menjangkiti hewan pengerat, ini tidak akan langsung berbahaya terhadap hewan tersebut. Jadi hewannya tidak langsung mati. Tapi ia justru menjadi inang dari virus dan juga bisa menularkan virus tersebut ke manusia.
Penularan hantavirus pada manusia bisa terjadi ketika seseorang menghirup partikel udara yang sudah tercemar dengan adanya hantavirus itu. Partikel udara ini bisa berupa cair ataupun padat misalnya debu yang sudah terkontaminasi dengan adanya ekskresi atau ini bisa berupa urin dan kotoran maupun air liur dari tikus yang terinfeksi. Kondisi ini sering terjadi pada saat ketika manusia sedang membersihkan gudang, loteng, rumah kosong atau tempat lembab yang menjadi sarang dari tikus.
Selain penyebaran dari udara, penularan ini juga bisa terjadi saat kulit yang terluka menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi adanya ekskresi hewan pengerat yang terinfeksi. Dalam beberapa kasus, virus juga dapat menular melalui makanan yang sudah tercemar. Dan secara umum hantavirus sebetulnya tidak mudah menular antar manusia.
Ada satu varian yang menjadi perhatian dunia saat ini yaitu varian Andes yang ditemukan di Amerika. Varian ini diduga bisa menular antar manusia melalui kontak erat dan inilah yang sekarang sedang menjadi kekhawatiran khususnya dalam kluster kapal MV Hondius. Para ahli juga menyebutkan bahwa hantavirus ini memang memiliki tingkat risiko kematian yang cukup tinggi jika tidak langsung ditangani dengan tepat.
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko terjadinya pandemi global ini tergolong rendah. Artinya kita tidak perlu khawatir secara berlebihan akan terjadi layaknya COVID-19 tapi tentu informasi soal hantavirus ini bisa menjadi pengingat kita untuk lebih menjaga kesehatan tubuh dan juga kebersihan lingkungan.
Baca Juga :
Penyebaran Berpotensi Meluas, Pakar Ungkap Pola Penularan HantavirusKalau kita melihat sebetulnya seperti apa gejala ketika terjangkit hantavirus dimana gejala ini bisa berbeda-beda tergantung jenis ataupun varian yang menjangkiti.
Secara umum ada dua sindrom utama yang paling dikenal yaitu HFRS dan juga HCPS yang lebih dikenal sebagai varian Andes. Kita bahas satu-satu mulai dari HFRS atau hemorrhagic fever with renal syndrome. Ini lebih banyak menyerang organ tubuh yaitu pada ginjal dan juga pembuluh darah.
Gejala awal jika terjangkit HFRS ini meliputi ada sakit kepala, demam, mual, kemudian juga nyeri otot, nyeri punggung, dan juga bagian perut. Bahkan juga bisa ada gejala seperti ruam-ruam pada wajah ataupun mata yang kemerahan. Kalau kondisinya semakin memburuk, ini pasien atau orang yang terjangkit bahkan bisa mengalami penurunan tekanan darah, kemudian shock akut, bahkan sampai yang paling risiko terparah adalah mengalami gagal ginjal.
Sementara itu kalau kita melihat varian yang berbeda yaitu HCPS atau hantavirus cardiopulmonary syndrome. Ini lebih banyak menyerang organ paru-paru dan juga jantung. Untuk gejala awalnya ini terlihat seperti flu biasa di mana ada demam, nyeri otot, dan juga badan yang terasa melemah atau kelelahan.
Namun setelah beberapa hari pasien ini bisa mengalami batuk yang berat, kemudian sesak nafas, paru-paru ini terisi dengan cairan, hingga ada risiko terjadinya gagal jantung.
Nah kita lihat lagi karakteristik lainnya dari dua varian ini kalau melihat dari wilayah penularannya. Dua varian hantavirus ini cenderung terkonsentrasi di dua pembagian wilayah di mana untuk varian HFRS ini lebih banyak ditemukan di wilayah Asia dan juga di benua Eropa.
Sementara untuk HCPS lebih banyak ditemukan di benua Amerika. Dan yang saat ini menjadi perhatian dunia adalah varian HCPS atau Andes yang dilaporkan punya kemampuan penularan antar manusia meskipun masih sangat terbatas. Di mana kasus penularan antar manusia untuk varian Andes sudah ditemukan di Argentina dan juga di Chile.
Nah karena gejala awalnya apalagi ini sangat mirip dengan penyakit seperti influenza atau COVID-19. Hantavirus seringkali terlambat untuk dideteksi. Inilah yang membuat edukasi dan juga kewaspadaan menjadi sangat penting.
Baca Juga :
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, AS Evakuasi 17 Warganya dari SpanyolKita juga akan melihat kasus terbaru di mana dunia saat ini menaruh perhatian pada kluster hantavirus di kapal pesiar MV Hodeus. Kapal ini berlayar di samudera Atlantik. Pada April kemarin sampai dengan awal Mei di mana kapal membawa sekitar 147 orang dari berbagai negara. Ini sudah termasuk ABK dan juga penumpangnya. Menurut laporan dari berbagai media internasional setidaknya ada delapan kasus terkait dengan hantavirus yang dilaporkan muncul di kapal ini. Baik itu yang sudah terkonfirmasi positif maupun yang masih berstatus suspek.
Sudah ditemukan tiga penumpang yang meninggal dunia setelah mereka menunjukkan gejala-gejala seperti demam, gangguan pencernaan dan juga sesak napas. Nah dari tiga korban meninggal dunia ini satu diantaranya sudah terkonfirmasi hantavirus. Organisasi kesehatan dunia atau WHO pun menduga bahwa kasus ini berkaitan dengan varian Andes itu jenis hantavirus yang bisa menular antar manusia dalam kondisi tertentu.
Akibat situasi ini pun pelayaran wisata sudah dihentikan dan para penumpang sudah dievakuasi, tentunya di bawah pengawasan ketat dari otoritas setempat, yaitu di Kepulauan Canary atau di Spanyol. Penumpang sempat diminta untuk tetap berada di kabin masing-masing atau di isolasi begitu menjalani pemantauan kesehatan dan sejumlah negara pun sudah melakukan pelacakan kontak terhadap penumpang yang sempat turun dari kapal sebelum akhirnya terjadi kasus yang terkonfirmasi. Meskipun menimbulkan kekhawatiran global, WHO lagi-lagi menegaskan bahwa hantavirus tidak semudah itu untuk menular seperti layaknya COVID-19.
Artinya kita tetap perlu waspada namun jangan panik.
Kasus hantavirus di Indonesia
Ada banyak sebetulnya yang mengira hantavirus hanya ada di luar negeri. Tapi faktanya Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa hantavirus juga sudah ditemukan di Indonesia. Setidaknya dalam 2,5 tahun terakhir, dari 2024 sudah ditemukan adanya kasus hantavirus di Indonesia. Yang terkonfirmasi sudah ada sebanyak 251 untuk yang suspek dan juga ada 23 kasus yang terkonfirmasi hantavirus. Dan dari jumlah tersebut ada 3 pasien yang dilaporkan meninggal dunia. Sementara ada 20 orang yang dinyatakan sudah sembuh dari yang terkonfirmasi positif sebelumnya.
Kementerian Kesehatan juga menyebut bahwa diperkirakan ada sekitar 11,6 persen manusia di Indonesia yang sebetulnya sudah terpapar hantavirus meskipun tidak terdiagnosis secara resmi. Jadi ini bentuknya adalah sebuah perkiraan atau estimasi.
Sementara itu untuk prevalensi infeksi pada tikus di Indonesia terhadap hantavirus mencapai hingga 34 persen dari sebanyak 15 spesies tikus yang diteliti. Hal ini pun menunjukkan bahwa potensi penularan di Indonesia sebetulnya cukup nyata terutama di daerah dengan sanitasi yang buruk dan populasi tikus yang tinggi. Para peneliti juga menyebutkan bahwa perubahan iklim, kepadatan penduduk, urbanisasi dan juga buruknya pengolahan limbah ini dapat meningkatkan risiko kontak manusia dengan hewan pengerat. Karena itu pengawasan penyakit berbasis lingkungan ini menjadi sangat penting supaya kasus hantavirus bisa dideteksi lebih dini.
Cara mencegah penularan hantavirus
Lalu apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya penularan hantavirus ini? Karena sampai saat ini memang belum ada obat khusus untuk menyembuhkan hantavirus. Jadi penanganan yang bisa dilakukan umumnya bersifat suportif pencegahan ataupun bagi pasien yang mengalami kesulitan bernafas akan diobati sesuai dengan gejalanya.
Bentuk-bentuk pencegahan yang bisa dilakukan, misalnya adalah imbauan untuk terus menjaga kebersihan lingkungan dan juga mengendalikan populasi tikus di sekitar tempat tinggal kita. Jalur masuk dari hewan pengerat ini sebisa mungkin ditutup rapat-rapat, jaga kebersihan lingkungan, adanya celah-celah dinding atau saluran air, lubang ventilasi yang terbuka ini perlu untuk dimonitor dan juga ditutup. Dan makanan serta bahan baku ini juga harus dipastikan kebersihannya supaya tidak tercemar oleh hewan-hewan pengerat.
Dan juga ketika Anda melakukan kegiatan bersih-bersih, sebisa mungkin untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker ataupun sarung tangan untuk menghindari berkontak langsung dengan adanya permukaan-permukaan yang sudah terkontaminasi. Dan juga Pemirsa, ini penting untuk bisa melakukan edukasi atau mengkomunikasikan sebetulnya terdapat risiko penularan hantavirus ini di masyarakat dan tentunya kita tidak perlu panik namun tetap harus waspada. Kasus hantavirus ini menunjukkan bahwa ancaman penyakit menular tidak selalu datang dari adanya virus baru.
Karena ada patogen lama yang walaupun langka selama ini jarang terdeteksi bisa menjadi ancaman serius jika kewaspadaan kita menurun. Menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan surveillance kesehatan dan juga memperkuat edukasi publik ini menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit zoonosis seperti hantavirus menyebar dengan lebih luas. Dan epidemiolog BRIN mengimbau supaya masyarakat waspada dan menjauhi sumber infeksi hantavirus seperti hewan peliharaan, debu serta menerapkan protokol kesehatan dengan warga negara yang terjangkit.
Sumber: Redaksi Metro TV/WHO/Kementerian Kesehatan/DJP2P Kemenkes RI




