Bisnis.com, JAKARTA - Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran publik setelah dilaporkan menyebabkan sejumlah korban jiwa dan memunculkan dugaan penularan antar manusia.
Namun, otoritas kesehatan Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan bahwa penularan virus ini tidak semudah virus pernapasan lain seperti Covid-19 atau influenza.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan virus Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, tetapi proses penularannya sangat sulit terjadi.
Direktur Divisi Kesehatan Migrasi Global CDC, David Fitter, menjelaskan bahwa hantavirus bukan patogen baru dan penyebarannya tidak mudah.
"Dan hantavirus ini, yaitu virus Andes, adalah satu-satunya strain yang bisa menular antar-manusia, tetapi sekali lagi, penularannya sangat sulit melalui kontak dekat dengan cairan tubuh, pernapasan, berbagi barang pribadi secara intim, seperti sikat gigi, dan sebagainya. Jadi, ini sangat berbeda dengan virus pernapasan," kata Fitter dalam konferensi pers di Washington, Senin (11/5).
Kronologi Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV HondiusKasus bermula dari munculnya klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde melintasi Atlantik dan Afrika.
Virus yang teridentifikasi adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, jenis hantavirus yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dalam penelitian tertentu dapat menular antar manusia melalui kontak erat berkepanjangan.
Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization mengonfirmasi tujuh kasus infeksi dengan tiga kematian. Hingga 10 Mei 2026, laporan otoritas kesehatan Inggris mencatat total delapan kasus yang terdiri dari enam kasus konfirmasi dan dua probable dengan case fatality rate (CFR) mencapai 37,5 persen.
Kapal tersebut membawa 149 penumpang dari 23 negara dan tiba di lepas pantai Tenerife, Kepulauan Canary, pada Minggu (10/5).
Setelah evakuasi dilakukan, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat menyebut satu dari 17 warga Amerika yang dievakuasi menunjukkan gejala ringan paparan hantavirus. Sementara satu orang lainnya dinyatakan positif terinfeksi varian Andes.
Media NBC melaporkan pesawat evakuasi mendarat di Nebraska. University of Nebraska Medical Center kemudian menyatakan satu pasien positif terinfeksi virus, namun tidak menunjukkan gejala.
Apakah Hantavirus Mudah Menular Antar Manusia?Otoritas kesehatan menegaskan penularan antar manusia pada hantavirus sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain Andes.
Kementerian Kesehatan RI melalui Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, mengatakan kasus di kapal pesiar berbeda dengan hantavirus yang ditemukan di Indonesia.
"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia untuk tipe HFRS yang ditemukan di Asia dan Indonesia.
Kelompok yang Memiliki Risiko TinggiMenurut Kemenkes, penularan hantavirus lebih sering terjadi melalui paparan tikus atau rodensia, baik dari urin, feses, air liur, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi.
- Petugas kebersihan dan pengangkut sampah
- Petani
- Pekerja bangunan lama
- Warga di daerah banjir
- Orang yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah
Kemenkes menyatakan Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS seperti yang terjadi di MV Hondius. Sejak 2024 hingga 2026, Indonesia hanya mencatat 23 kasus HFRS dan belum ditemukan kasus penularan dari manusia ke manusia.
Penelitian Rikhus Vektora sebelumnya memang menemukan virus hanta pada tikus dan celurut di 29 provinsi, tetapi hingga saat ini belum ada bukti transmisi luas ke manusia di Indonesia.
Kemenkes juga menerima notifikasi terkait seorang warga negara asing berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat dan sempat satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal dunia. Namun, hasil tes PCR pasien tersebut dinyatakan negatif.
"Meski demikian, pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat," kata Andi. Saat ini pasien masih berada di RSPI Sulianti Saroso untuk observasi lanjutan.
Cara Mencegah Penularan HantavirusKementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus maupun area yang berpotensi terkontaminasi.
"Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul aware terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus. Artinya, tikus itu jangan sampai berkeliaran dan lain sebagainya," ujar Andi.
Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain:
- Menjaga rumah dan lingkungan tetap bersih
- Menutup akses masuk tikus ke rumah
- Menghindari kontak langsung dengan urin atau kotoran tikus
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor
- Tidak bermain di area banjir yang berisiko tercemar
- Menjaga makanan agar tidak terpapar tikus
Andi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap banjir sebagai tempat bermain karena berisiko menularkan berbagai penyakit.
"Jadi, ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut," paparnya.
Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memang menimbulkan kewaspadaan global karena melibatkan strain Andes yang dalam kondisi tertentu dapat menular antar manusia. Namun, otoritas kesehatan menegaskan penularannya sangat sulit terjadi dan membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita.
Di Indonesia sendiri, hingga kini belum ditemukan kasus HPS maupun penularan antar manusia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus, terutama di wilayah rawan banjir dan sanitasi buruk.





