Yield SBN Melonjak ke 6,74% Saat Rupiah Ambrol Rp17.500 per Dolar AS

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Imbal hasil obligasi pemerintah (Surat Berharga Negara/SBN) bertenor 10 tahun terpantau meningkat ke level 6,74% hari ini, seiring dengan depresiasi rupiah ke level terendah sepanjang masa.

Berdasarkan data Trading Economics, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun melesat ke 6,74% pada Selasa (12/5/2026). Posisi itu meningkat dari 6,58% kemarin.

Sementara itu, rupiah melemah 0,46% atau 79,4 poin ke Rp17.500,4 per dolar AS. Level rupiah tersebut mencerminkan depresiasi 2,18% secara bulanan, atau 5,39% secara tahunan.

Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di level Rp17.388 per dolar AS pada akhir kuartal kedua 2026, namun bisa turun lebih dalam di penghujung tahun. Secara historis, level terendah rupiah dalam sejarah berada di posisi Rp17.519 pada Mei 2026.

Baca Juga : Greenback Perkasa Tekan Rupiah ke Level Rp17.500 per Dolar AS

Laporan tersebut menjabarkan bahwa rupiah terus tertekan seiring dengan indeks dolar AS yang menguat. Penguatan greenback didorong oleh konflik AS-Iran yang berkepanjangan dan menyulut harga minyak global melambung.

Saat ini, terdapat keraguan pasar akan kemampuan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah meskipun ada langkah-langkah untuk memperketat aturan valuta asing, meningkatkan likuiditas, dan meningkatkan koordinasi makroprudensial. Di sisi lain, cadangan devisa pada April 2026 tercatat turun ke level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.

Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah hari ini akan melanjutkan pelemahan ke level Rp17.410 sampai Rp17.460 per dolar AS. Sebelumnya, pada perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah ditutup melemah 32 poin ke Rp17.414 dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS menguat 0,09% ke 97,98.

Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu ketegangan konflik AS-Iran yang terus berkembang. Terbaru, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran. Sikap Trump tersebut langsung meredam harapan pasar akan deeskalasi di kawasan Teluk.

"Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai," kata Ibrahim.

INDONESIAN RUPIAH / U.S. DOLLAR - TradingView

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Media 'Homeless' vs Verifikasi Dewan Pers, SMSI Dorong Regulasi Pers Lebih Adaptif di Era Digital
• 7 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Peluang RI jadi Pusat Pasokan Listrik Asean
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Polisi Ringkus Geng Motor Pelaku Pembacokan Remaja di Makassar
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Jangan Biarkan Polarisasi Sosial dan Politik Terus Tereskalasi
• 16 jam laludetik.com
thumb
Menteri HAM Pigai Tegaskan Pelarangan Nobar Film Harus Melalui Keputusan Pengadilan
• 20 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.