Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan pasar diperkirakan akan bergejolak menyambut pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026. Di tengah volatilits pasar, terdapat pola pergerakan sejumlah saham big caps yang bisa menjadi panduan investor memasang posisi mereka.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah menjelaskan pola gerak saham jelang pengumuman MSCI bisa dilihat dari daftar saham top leaders dan top laggards perdagangan Senin (11/5). Fath melihat, sejumlah saham menguat terdorong sentimen positif penundaan royalti minerba seperti INCO, MDKA dan MBMA. Di sisi lain, koreksi saham big banks seperti BBCA dan BBRI mulai menipis.
"Pasar mulai rebalancing sebelum pengumuman. Saham-saham bluechip yang diekspektasikan bobotnya mungkin berkurang tidak signifikan di awal tahun mulai terefleksi. Di sisi lain, saham yang turun dan dihapus [dari MSCI] sangat terasa volatilitasnya. Bisa dilihat saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu beberapa turun cukup dalam," ujarnya dalam kanal YouTube Maybank Sekuritas, Selasa (12/5/2026).
Fath memperingatkan bahwa perdagangan 12 Mei dan 13 Mei 2026 akan menjadi puncak volatilitas tertinggi. Dia menjelaskan, pengumuman MSCI kemungkinan akan dirilis pada Rabu 13 Mei dini hari waktu Indonesia. Pengumuman tersebut bukan mengenai perubahan status kelas emerging market, melainkan perubahan konstituen saham Indonesia di MSCI dan pengurangan bobot saham konstituen.
Dalam pengumuman terakhir, MSCI menyatakan akan mengeluarkan saham-saham yang terdaftar di HSC. Di sini, DSSA dan BREN hampir dipastikan terdepak. Sementara konstituen yang lain akan ditentukan pengurangan bobot indeksnya.
"Kalian yang punya posisi saat ini, terutama di saham-saham MSCI lebih tenang, karena volatilitasnya ini sifatnya short term," ujar Fath.
Baca Juga
- Asing Borong Saham Rp12,26 Triliun Jelang MSCI, Sinyal Positif IHSG?
- Jalan Panjang Reformasi Pasar Modal di Tengah Tekanan MSCI & Capital Outflow
- Menanti Review MSCI, Indeks Bisnis-27 Dibuka Turun Dipicu Koreksi AMRT & ASII
Fath menjelaskan lebih lanjut, pengurangan bobot saham Indonesia di MSCI sebenarnya dapat turun secara alami, bukan semata hasil reviu. Bobot tersebut turun seiring koreksi IHSG yang telah terpangkas 21% year to date (YtD), pelemahan nilai tukar rupiah, hingga faktor penguatan signifikan bursa-bursa di kelas emerging market MSCI.
Fath menghitung, bobot Indonesia di MSCI tahun lalu rata-rata 1,2%, dan kemungkinan dengan koreksi tajam IHSG dan pelemahan rupiah tahun ini bisa ada di posisi 0,7%-0,8% atau bahkan bisa lebih rendah.
"Kabar baiknya adalah kalau ini memang bobot terakhir dibanding tahun lalu, otomatis outflow yang diekspektasikan berkurang, karena bobotnya lebih kecil. Yang ingin kita dengar kali ini adalah perubahan foreign inclusion factor yang akan diumumkan MSCI yang pasti akan memengaruhi bobot-bobot yang ada di saham saat ini," jelasnya.
Merespons volatilitas pasar yang dipicu pengumuman MSCI nanti, Fath mengingatkan kepada investor yang sudah memiliki portofolio saham-saham dengan fundamental bagus, memiliki story yang masih on the track, dan performa kinerja keuangan positif, dia menyarankan kepada mereka agar tidak panik.
"Volatilitasnya pasti tinggi, investor tidak perlu khawatir, ini hanya short term," tegasnya.





