Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan ultimatum kepada Amerika Serikat (AS) untuk menerima syarat-syarat dalam proposal 14 poin Teheran, atau menghadapi "kegagalan".
Ultimatum itu, seperti dilansir AFP, Selasa (12/5/2026), disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran, yang disebutnya sebagai proposal "bodoh" dan "sampah". Trump juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam "kondisi kritis".
Ghalibaf, dalam tanggapan terbarunya, menegaskan bahwa Washington harus menerima "hak-hak" Teheran jika ingin mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan, saat perundingan damai tetap buntu usai putaran awal gagal menghabiskan terobosan bulan lalu.
"Tidak ada alternatif lainnya, selain menerima hak-hak rakyat Iran, sebagaimana diuraikan dalam proposal 14 poin. Pendekatan lainnya akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil; hanya kegagalan demi kegagalan," tegas Ghalibaf dalam pernyataan via media sosial X.
"Semakin lama itu berlarut-larut, semakin banyak pembayar pajak Amerika yang akan menanggungnya," cetus Ghalibaf yang juga menjabat ketua parlemen Iran ini.
Iran menolak untuk mundur dalam perangnya melawan AS, dengan para pejabat militer Teheran telah memperingatkan jika mereka siap untuk merespons setiap serangan baru Washington.
Langkah Iran membatasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz, yang penting bagi pasokan minyak dan gas global, telah mengguncang pasar global dan memberikan alat tawar-menawar yang vital. Sementara AS merespons dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran.
(nvc/ita)





