Beauty, tekanan ekonomi kini menjadi salah satu faktor yang banyak dikaitkan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan anak muda Indonesia. Di Kota Malang yang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Indonesia, persoalan ini ikut menjadi perhatian di tengah meningkatnya kasus bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir.
Tak hanya tekanan akademik dan relasi sosial, kondisi finansial disebut turut memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dan generasi muda. Situasi tersebut diperparah dengan kesehatan mental yang sering kali tidak tertangani sejak awal.
Melihat kondisi itu, Sofia Ambarini melalui program Indonesia Sehat Jiwa di bawah Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia menghadirkan pendekatan kesehatan mental berbasis komunitas untuk membantu generasi muda memiliki ruang aman berbagi cerita.
Bagi Sofia, meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan anak muda bukan sekadar persoalan angka statistik. Menurutnya, banyak anak muda merasa sendirian ketika menghadapi tekanan hidup yang datang dari berbagai arah, termasuk persoalan ekonomi.
“Banyak anak muda sebenarnya hanya membutuhkan ruang untuk didengar tanpa dihakimi. Sayangnya, stigma membuat mereka takut bicara,” ujar Sofia.
Ia menilai stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap persoalan psikologis sebagai bentuk kelemahan pribadi. Akibatnya, banyak anak muda memilih memendam tekanan yang mereka alami hingga berada di titik paling berbahaya.
Melalui Indonesia Sehat Jiwa, Sofia menghadirkan berbagai program edukasi, pendampingan, dan ruang diskusi yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Salah satu program yang cukup dikenal adalah “Pojok Curhat”, ruang informal bagi mahasiswa dan masyarakat untuk berbagi cerita sekaligus mendapatkan dukungan emosional.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penanganan masalah, tetapi juga membangun ketahanan mental sejak dini. Program ini juga mendorong mahasiswa dan pelajar menjadi peer support atau pendukung sebaya yang lebih peka terhadap kondisi psikologis orang di sekitarnya.
Menurut Sofia, banyak anak muda lebih nyaman berbicara dengan teman dekat dibanding langsung mendatangi tenaga profesional. Karena itu, peran lingkungan sosial dinilai penting untuk membantu mencegah kondisi mental yang semakin memburuk.
Di era digital, tantangan kesehatan mental juga dinilai semakin kompleks. Paparan media sosial, tekanan pencapaian, hingga budaya membandingkan diri membuat banyak anak muda mengalami kelelahan emosional tanpa disadari.
Aktivitas sosial tersebut berjalan beriringan dengan perjalanan akademik Sofia yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral (S3) di bidang Psikologi. Ia menilai pendekatan ilmiah perlu berjalan seimbang dengan implementasi langsung di masyarakat agar solusi yang dibangun relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
Melalui Indonesia Sehat Jiwa, berbagai aktivitas komunitas kini terus dikembangkan di sejumlah kota sebagai upaya memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks.





