JAKARTA, KOMPAS.TV – Kontroversi penilaian dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Pontianak, Kalimantan Barat, memicu gelombang kritik tajam.
Insiden yang menimpa Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, kini tidak lagi sekadar urusan nilai, melainkan menjadi diskursus serius mengenai integritas lembaga dan praktik demokrasi di lingkungan pendidikan.
Peristiwa bermula saat Josepha (Grup C) mendapatkan nilai minus 5 atas jawaban yang benar secara konstitusional, sementara Grup B dari SMAN 1 Sambas mendapatkan nilai 10 untuk jawaban yang identik.
Meski Josepha sempat meminta pendapat penonton untuk membuktikan kebenaran jawabannya, pernyataan tersebut justru dipatahkan oleh juri.
Baca Juga: Viral Jawaban Benar Siswa Cerdas Cermat Empat Pilar Disalahkan Juri, MPR Minta Maaf
Dalam diskusi Kompas Petang Kompas TV pada Selasa (12/5/2026), Anggota MPR RI Lalu Hadrian Irfani menyayangkan insiden yang melibatkan juri Indri Wahyuni dan Dyastasita Widya Budi tersebut.
Menurutnya, kegagalan juri dalam mendengarkan protes adalah kegagalan dalam mencerminkan nilai kebangsaan itu sendiri.
"Apa yang kita lihat bersama bahwa dalam video tersebut juri tidak mendengarkan protes ataupun ketidakpuasan dari salah satu peserta kemudian tidak ditanggapi, itu mencerminkan tidak demokratisnya acara tersebut. Sehingga kami pertama tentu melihat kejadian ini meminta agar lomba tersebut diulang," tegas Lalu.
Ia menekankan LCC ini bukan sekadar ajang adu hafalan, melainkan wadah menyosialisasikan fondasi bernegara.
Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan adanya arogansi yang mencederai tujuan tersebut.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- Josepha Alexandra
- SMAN 1 Pontianak
- Lalu Hadrian Irfani
- viral cerdas cermat MPR
- LCC Empat Pilar
- Cerdas Cermat Empat Pilar




