Investor Serbu Safe Haven di Tengah Ketegangan AS-Iran, Harga Perak Ikut Naik

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Harga perak melonjak tajam pada perdagangan awal pekan ini. Logam mulia itu naik sekitar 7 persen hingga mendekati US$86 per ounce atau sekitar Rp1,46 juta per ounce dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.

Kenaikan tersebut sekaligus menjadi level tertinggi harga perak dalam hampir dua bulan terakhir. Lonjakan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik Timur Tengah, terutama setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.

Baca Juga :
Harga Emas Global Amblas Nyaris 10 Persen, Terburuk dalam 15 Tahun
Harga Perak Sempat Pecah Rekor, tapi Apakah Layak untuk Investasi Masa Depan?

"Investor ramai-ramai memburu aset safe haven setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran dan menyebutnya sebagai sesuatu yang 'sepenuhnya tidak dapat diterima'," tulis laporan AA, seperti dikutip pada Selasa, 12 Mei 2026.

Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa konflik di kawasan bisa kembali memanas dalam waktu dekat. Selain perak, harga emas juga ikut menguat. Harga emas spot tercatat naik 0,3 persen menjadi US$4.725 per ounce atau setara sekitar Rp80,3 juta per ounce. 

Pasar juga masih mencermati serangan yang terjadi di Timur Tengah selama akhir pekan. Situasi tersebut dinilai mengancam gencatan senjata rapuh yang sebelumnya tercapai pada April lalu.

Di sisi lain, Selat Hormuz yang masih diblokade turut memperbesar tekanan terhadap pasar energi global. Jalur pelayaran strategis itu merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut membuat harga minyak tetap tinggi dan memperbesar risiko inflasi di berbagai negara.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.

Sebelumnya, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. Namun kini proyeksi pasar mulai terpecah antara kemungkinan pemangkasan terbatas atau bahkan tidak ada penurunan suku bunga sama sekali sepanjang 2026.

Pelaku pasar saat ini juga menunggu data inflasi konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Selasa waktu setempat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Baca Juga :
Harga Perak Naik Terus, Analis Lihat Peluang Cetak Rekor Lagi
Toko Emas dan Perak 'Kebanjiran' Logam Mulia, Imbas Naik Turun Harga yang Ekstrem
Analis Sorot Naiknya Harga Emas dan Perak Dongkrak Penguatan IHSG

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Peringatkan Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Kolaps
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Korlantas Polri Siapkan Strategi Menuju Zero Kendaraan Lebih Muatan 2027
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Chery Q Siap Debut di Indonesia, Jadi Lawan BYD Atto 1?
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Bahlil Cerita Asal Mula Wacana Pungutan Ekspor Nikel, Pengusaha Setengah Hati Bangun Hilirisasi
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Film ”Pesta Babi” dan Bayang-bayang Sensor
• 19 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.