Jakarta, VIVA – Harga perak melonjak tajam pada perdagangan awal pekan ini. Logam mulia itu naik sekitar 7 persen hingga mendekati US$86 per ounce atau sekitar Rp1,46 juta per ounce dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.
Kenaikan tersebut sekaligus menjadi level tertinggi harga perak dalam hampir dua bulan terakhir. Lonjakan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik Timur Tengah, terutama setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu.
"Investor ramai-ramai memburu aset safe haven setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran dan menyebutnya sebagai sesuatu yang 'sepenuhnya tidak dapat diterima'," tulis laporan AA, seperti dikutip pada Selasa, 12 Mei 2026.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa konflik di kawasan bisa kembali memanas dalam waktu dekat. Selain perak, harga emas juga ikut menguat. Harga emas spot tercatat naik 0,3 persen menjadi US$4.725 per ounce atau setara sekitar Rp80,3 juta per ounce.
Pasar juga masih mencermati serangan yang terjadi di Timur Tengah selama akhir pekan. Situasi tersebut dinilai mengancam gencatan senjata rapuh yang sebelumnya tercapai pada April lalu.
Di sisi lain, Selat Hormuz yang masih diblokade turut memperbesar tekanan terhadap pasar energi global. Jalur pelayaran strategis itu merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut membuat harga minyak tetap tinggi dan memperbesar risiko inflasi di berbagai negara.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Sebelumnya, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. Namun kini proyeksi pasar mulai terpecah antara kemungkinan pemangkasan terbatas atau bahkan tidak ada penurunan suku bunga sama sekali sepanjang 2026.
Pelaku pasar saat ini juga menunggu data inflasi konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Selasa waktu setempat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.





