Jakarta (ANTARA) - Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan, pihaknya terbuka dengan berbagai peluang investasi strategis di Indonesia, termasuk mengakuisisi saham perusahaan asing.
Hal ini disampaikan Rosan menanggapi isu Danantara akan mengakusisi saham perusahaan Prancis Eramet di PT Weda Bay Nickel (WBN), Maluku Utara. Menurut dia, Danantara selalu siap untuk menjalin kerja sama strategis, termasuk melakukan aksi korporasi.
"Kita sih pada dasarnya terbuka, ya atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia dan kita kan Danantara ini bisa menjadi strong local partner juga, kan ya," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Rosan menyampaikan hingga saat ini pembahasan masih berada pada tahap diskusi awal dan belum ada keputusan final terkait rencana akuisisi tersebut.
Ia berharap kehadiran Danantara dapat memperkuat posisi Indonesia dalam proyek-proyek strategis nasional.
"Kita terbuka kok. Kita diskusi juga dengan Eramet," katanya.
Pada 2025, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menyampaikan bahwa kerja sama investasi strategis di sektor nikel intens dibahas dengan Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).
Danantara dan INA yang menggandeng perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, untuk menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel dari hulu hingga hilir.
Saat itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyatakan bahwa kolaborasi tersebut bertujuan untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.
Ia menuturkan bahwa dalam kemitraan tersebut, Danantara dan INA akan mengelola pembiayaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan investasi, sementara Eramet berkontribusi melalui keahlian teknis dan pengalaman dalam menjalankan proyek pertambangan skala besar sesuai standar berkelanjutan internasional.
Baca juga: Weda Bay Nickel tegaskan komitmen penerapan ESG lewat sertifikasi
Baca juga: IWIP buka suara soal penyelundupan bahan mineral di bandara Weda Bay
Baca juga: Eramet targetkan produksi nikel di Weda Bay naik jadi 42 juta ton
Hal ini disampaikan Rosan menanggapi isu Danantara akan mengakusisi saham perusahaan Prancis Eramet di PT Weda Bay Nickel (WBN), Maluku Utara. Menurut dia, Danantara selalu siap untuk menjalin kerja sama strategis, termasuk melakukan aksi korporasi.
"Kita sih pada dasarnya terbuka, ya atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia dan kita kan Danantara ini bisa menjadi strong local partner juga, kan ya," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.
Rosan menyampaikan hingga saat ini pembahasan masih berada pada tahap diskusi awal dan belum ada keputusan final terkait rencana akuisisi tersebut.
Ia berharap kehadiran Danantara dapat memperkuat posisi Indonesia dalam proyek-proyek strategis nasional.
"Kita terbuka kok. Kita diskusi juga dengan Eramet," katanya.
Pada 2025, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menyampaikan bahwa kerja sama investasi strategis di sektor nikel intens dibahas dengan Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).
Danantara dan INA yang menggandeng perusahaan tambang asal Prancis, Eramet, untuk menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel dari hulu hingga hilir.
Saat itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyatakan bahwa kolaborasi tersebut bertujuan untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.
Ia menuturkan bahwa dalam kemitraan tersebut, Danantara dan INA akan mengelola pembiayaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan investasi, sementara Eramet berkontribusi melalui keahlian teknis dan pengalaman dalam menjalankan proyek pertambangan skala besar sesuai standar berkelanjutan internasional.
Baca juga: Weda Bay Nickel tegaskan komitmen penerapan ESG lewat sertifikasi
Baca juga: IWIP buka suara soal penyelundupan bahan mineral di bandara Weda Bay
Baca juga: Eramet targetkan produksi nikel di Weda Bay naik jadi 42 juta ton




