Rabu pagi, kualitas udara Jakarta terburuk ketiga di dunia

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan udara terburuk di dunia, pada Rabu pagi.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 158 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 65 mikrogram per meter kubik.

Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yaitu bagi masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Sedangkan kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Delhi (India) dengan angka 160; kedua, Lahore (Pakistan) dengan angka 159; urutan keempat Kinshasa, (Democratic Republic of the Congo) di angka 151 dan urutan kelima Beijing (China) dengan angka 144.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan respon cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di ibu kota saat musim kemarau, yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus mendatang.

Langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau itu meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.

Selain itu Pemprov DKI juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut Pemprov DKI, pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah secara parsial sehingga diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.

Baca juga: Kualitas udara Jakarta terburuk ketiga di dunia pada Senin pagi

Baca juga: Pakai masker, kualitas udara Jakarta terburuk keenam di dunia

Baca juga: Kualitas udara Jakarta terburuk keempat di dunia, warga gunakan masker


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manfaat Rutin Minum Air Rebusan Cengkeh di Pagi Hari
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
Tinjau Proyek MRT Jakarta, Gibran: HI-Monas Beroperasi 2027
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Media 'Homeless' vs Verifikasi Dewan Pers, SMSI Dorong Regulasi Pers Lebih Adaptif di Era Digital
• 17 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Tingkatkan Minat Baca Jadi Budaya Baca
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Budaya Korupsi Mengakar di Tubuh Polri, Cukupkah dengan Reformasi Kultural?
• 22 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.