Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas tertekan seiring memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran yang mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi suku bunga global yang tetap tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (12/5/2026) ditutup di US$ 4713,65 per troy ons atau melemah 0,43%. Pelemahan ini mengakhiri tren positif dua hari beruntun sebelumnya di mana emas menguat 1,2%.
Harga emas menguat tipis pada hari ini. Pada Rabu (13/5/2026), harga emas ada di US$ 4720,12 atau menguat 0,14%.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata berada dalam kondisi "nyaris kolaps" setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri konflik.
Menyusul pernyataan tersebut, harga minyak kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Minyak Brent Crude naik 3,42% ke US$107,77 per barel.
Kenaikan ini berimbas juga pada lonjakan indeks dolar. Indeks dolar ditutup di 98, 298 pada perdagangan kemarin, dari 97,955 pada perdagangan sebelumnya.
Pembelian emas dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar membebani pembeli emas.
"Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko bahwa The Federal Reserve dan bank sentral lainnya mungkin harus menaikkan suku bunga untuk melawan stagflasi yang berpotensi muncul. Itulah yang sedang direspons oleh pasar emas," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, dikutip dari Refinitiv.
Sementara itu, data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS naik untuk bulan kedua berturut-turut pada April, menghasilkan kenaikan tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi naik 0,4% bulanan dan 2,8% tahunan, masih jauh di atas target 2% Federal Reserve.
Inflasi tahunan yang menembus 3,8% adalah yang tertinggi sejak Mei 2023.
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan logam mulia ini karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Joni Teves, ahli strategi logam mulia dari UBS Investment Bank, mengatakan pihaknya tetap optimistis terhadap prospek emas karena faktor-faktor fundamental pendukung masih kuat.
"Kami masih percaya harga emas dapat pulih dari level saat ini dan kembali mencetak rekor tertinggi baru tahun ini," ujarnya.
Pelaku pasar kini juga menantikan rilis data Producer Price Index (PPI) pada Rabu serta pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing yang dijadwalkan berlangsung Kamis hingga Jumat.
Di tempat lain, bank-bank di India kembali melanjutkan impor emas dan perak setelah sempat terhenti lebih dari sebulan, usai menyetujui pembayaran bea masuk sebesar 3%.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




