Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai setelah terbang tinggi. Merujuk Refinitiv, harga batu bara kontrak Juni ditutup di harga US$ 135,8 per ton atau melandai 0,44% pada perdagangan Selasa (13/5/2026).
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 1,45% pada Senin kemarin. Harga batu bara melandai setelah China kembali memberi kabar buruk.
Setelah melaporkan penurunan impor, China juga kembali memberi kabar negatif.
Total impor batu bara pada April 2026 mencapai 33,08 juta ton, turun 12,54% dibanding tahun sebelumnya dan 15,3% lebih rendah dibanding Maret.
Pasar batu bara termal di pelabuhan China juga cenderung stabil setelah sebelumnya menguat, di tengah tarik-menarik antara dukungan dari tingginya biaya pasokan dan lemahnya permintaan dari konsumen akhir.
Aktivitas transaksi di pelabuhan-pelabuhan utama China mulai melambat karena pembeli bersikap hati-hati memasuki periode low season, sementara para penjual tetap mempertahankan harga karena biaya produksi dan impor masih tinggi.
Permintaan yang lemah terutama disebabkan oleh konsumsi listrik yang belum meningkat signifikan, persediaan batu bara di pembangkit listrik masih cukup tinggi, dan kondisi musiman yang belum memasuki puncak musim panas.
Di sisi lain, harga batu bara impor, termasuk pasokan dari Indonesia, tetap tinggi sehingga memberikan dasar bagi harga domestik China. Dengan kata lain, meskipun pembeli menahan diri, penjual juga enggan menurunkan harga terlalu dalam karena margin keuntungan tetap terbatas.
Secara keseluruhan, kondisi ini membuat pasar batu bara termal di pelabuhan China bergerak mendatar.
Biaya pasokan yang tinggi menopang harga, tetapi lemahnya permintaan menghambat kenaikan lebih lanjut. Situasi tersebut penting bagi eksportir Indonesia karena China merupakan pasar utama batu bara termal Indonesia.
EL Nino, Bisakah Dongkrak Harg Batu Bara?
UBS memperingatkan potensi munculnya fenomena "super El Niño" mulai pertengahan 2026 yang dapat memperketat pasar batu bara termal global melalui jalur laut dan mendorong harga naik. Dalam skenario ini, produsen batu bara dari Indonesia dan Australia diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan fenomena El Niño akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah ilmuwan bahkan menilai peristiwa ini berpotensi menjadi yang terkuat pada abad ini, didorong oleh tingginya suhu permukaan Pacific Ocean.
Menurut UBS, El Niño biasanya memicu gelombang panas ekstrem dan berkepanjangan di Asia. Hal ini penting karena pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang sekitar 70% pasokan listrik di India dan sekitar 55% di China, serta masih mendominasi bauran listrik di banyak negara Asia lainnya.
Meningkatnya penggunaan pendingin udara diperkirakan akan mendongkrak konsumsi dan impor batu bara. Di saat yang sama, perubahan pola curah hujan di Latin America dan Africa dapat menurunkan produksi listrik tenaga air, yang selama ini menyumbang porsi besar pembangkitan listrik di kedua kawasan tersebut.
UBS menilai risiko ini muncul ketika sistem energi global sudah berada di bawah tekanan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga El Niño berpotensi memperburuk ketatnya pasokan energi.
Di sisi pasokan, UBS mencatat adanya potensi hambatan dari kebijakan kuota ekspor baru Indonesia. Namun, berdasarkan hasil kunjungan industri terbaru, otoritas Indonesia dinilai tetap bersedia menyetujui tambahan kuota ekspor setelah harga batu bara mengalami kenaikan.
(mae/mae) Add as a preferredsource on Google




