EtIndonesia. Situasi geopolitik global kembali bergerak ke arah yang semakin tegang setelah sejumlah negara besar secara bersamaan meningkatkan aktivitas diplomatik maupun militer di kawasan Timur Tengah. Di tengah ancaman konflik yang terus membesar di Selat Hormuz, Kementerian Luar Negeri Tiongkok secara tidak biasa merilis sebuah video berdurasi lebih dari dua menit melalui platform Weibo yang langsung menarik perhatian dunia internasional.
Video tersebut dianggap banyak pengamat sebagai sinyal halus dari Beijing kepada Washington di tengah meningkatnya ketegangan global dan tekanan ekonomi maupun militer yang terus berkembang.
Dalam video itu, pemerintah Tiongkok menekankan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat merupakan dua negara paling berpengaruh di dunia dan karena itu kedua pihak harus mampu hidup berdampingan secara damai.
Narasi video juga menyoroti sejarah hubungan kedua negara di masa lalu, termasuk bantuan pasukan udara sukarelawan Amerika “Flying Tigers” kepada Tiongkok pada masa Perang Dunia II. Selain itu, video tersebut mengingatkan bahwa Beijing dan Washington pernah menghadapi berbagai tantangan global bersama-sama, mulai dari perang melawan terorisme hingga krisis finansial internasional.
Pemerintah Tiongkok dalam video tersebut juga menyampaikan bahwa kerja sama antara dua negara besar dapat membawa “energi positif” bagi dunia serta memungkinkan kedua pihak mencapai keberhasilan bersama.
Banyak analis menilai langkah ini sangat tidak biasa karena muncul di saat hubungan Tiongkok dan Amerika Serikat tengah berada dalam fase sensitif, terutama setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah dan semakin agresifnya tekanan ekonomi Washington terhadap jaringan perdagangan minyak Iran.
Lebih dari 40 Negara Bahas Operasi Pengawalan Internasional
Di hari yang sama, lebih dari 40 negara menggelar pertemuan internasional guna membahas kemungkinan keterlibatan negara-negara Eropa dalam rencana operasi pengawalan kapal internasional di Selat Hormuz.
Rencana tersebut dipimpin oleh Inggris dan Prancis sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran global di kawasan tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati wilayah sempit ini. Karena itu, setiap ketegangan militer di sana langsung memengaruhi pasar energi global dan keamanan perdagangan internasional.
Sebagai bagian dari persiapan operasi tersebut, kapal induk milik Prancis, Charles de Gaulle, bersama kelompok tempurnya telah ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Inggris juga mengerahkan kapal perusak HMS Dragon untuk mendukung kemungkinan operasi pengamanan jalur laut internasional.
Pengerahan armada ini menunjukkan bahwa negara-negara Barat mulai bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi yang lebih besar apabila situasi di Hormuz semakin memburuk.
Inggris dan Amerika Umumkan Gelombang Sanksi Baru terhadap Iran
Masih pada 11 Mei 2026, pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan paket sanksi baru terhadap 12 individu dan entitas yang dikaitkan dengan Iran.
Pemerintah Inggris menuduh pihak-pihak tersebut terlibat dalam aktivitas bermusuhan terhadap Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat lainnya.
Hampir bersamaan, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent juga mengumumkan sanksi tambahan dalam operasi yang disebut Washington sebagai “operasi kemarahan ekonomi”.
Sanksi tersebut ditujukan kepada 12 individu dan perusahaan yang diduga membantu Garda Revolusi Iran menyelundupkan minyak ke Tiongkok untuk menghindari embargo internasional.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Washington kini tidak hanya fokus pada tekanan militer, tetapi juga terus memperluas perang ekonomi terhadap jaringan perdagangan Iran.
Iran Ancam Respons Cepat terhadap Inggris dan Prancis
Menanggapi pengerahan militer Barat, Iran segera mengeluarkan peringatan keras.
Teheran menegaskan bahwa setiap pengerahan militer Inggris maupun Prancis di kawasan akan mendapatkan “respons cepat dan tegas”.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa Selat Hormuz dapat berubah menjadi titik benturan langsung antara Iran dan koalisi Barat.
Namun tak lama kemudian, Presiden Prancis Emmanuel Macron tampak mencoba meredakan ketegangan.
Dalam konferensi pers yang digelar pada hari yang sama, Macron mengatakan bahwa Prancis sebenarnya tidak pernah mempertimbangkan pengerahan armada tempur untuk operasi ofensif di Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa Paris hanya ingin menjalankan misi keamanan maritim melalui koordinasi dengan Iran.
Pernyataan Macron ini memicu berbagai spekulasi karena dianggap menunjukkan sikap yang lebih lunak dibandingkan pendekatan Inggris dan Amerika Serikat.
Pakistan Dituduh Diam-Diam Membantu Iran
Di tengah situasi yang semakin rumit, laporan baru dari CBS kembali memunculkan kontroversi besar.
Sejumlah pejabat Amerika Serikat menuding Pakistan diam-diam membantu Iran di balik layar.
Menurut laporan tersebut, di depan publik Pakistan memang berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Namun secara rahasia, Islamabad dituduh membantu Iran menyembunyikan pesawat-pesawat militernya agar terhindar dari kemungkinan serangan Amerika.
Laporan itu menyebut bahwa setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara, Iran segera memindahkan sejumlah pesawat tempurnya ke Pangkalan Udara Nur Khan di Pakistan.
Tujuannya disebut-sebut untuk menghindari kemungkinan serangan udara Amerika Serikat.
Namun tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh pejabat tinggi Pakistan.
Mereka menegaskan bahwa Pangkalan Udara Nur Khan berada di kawasan pusat kota dan mustahil sejumlah besar pesawat tempur asing dipindahkan tanpa diketahui masyarakat maupun media.
Meski demikian, laporan tersebut tetap memicu perhatian besar karena menunjukkan bahwa konflik ini kini mulai menyeret negara-negara lain ke dalam pusaran krisis.
Militer Amerika Terus Kirim Kekuatan Besar ke Timur Tengah
Sementara jalur diplomasi masih berlangsung, aktivitas militer Amerika Serikat justru terus meningkat.
Pada 11 Mei, militer AS dilaporkan terus menjalankan operasi pengangkutan udara besar-besaran melalui wilayah udara Eropa untuk mengirim perlengkapan militer menuju Timur Tengah.
Perhatian dunia juga tertuju pada kemunculan kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Alaska, yang muncul ke permukaan laut saat memasuki wilayah Gibraltar pada malam sebelumnya.
USS Alaska merupakan kapal selam pembawa rudal balistik strategis yang memiliki kemampuan serangan nuklir jarak jauh.
Kemunculan kapal selam strategis seperti ini di tengah situasi krisis langsung memicu spekulasi luas bahwa Washington tengah meningkatkan kesiapan militernya secara serius.
Selain itu, data terbaru dari Bandara Ben Gurion di Israel menunjukkan puluhan pesawat tanker Angkatan Udara AS kini berada di landasan pacu.
Pesawat tanker udara biasanya digunakan untuk mendukung operasi pengeboman jarak jauh dan pengisian bahan bakar di udara bagi jet tempur maupun pesawat pembom strategis.
Karena itu, banyak analis menduga Amerika Serikat sedang mempersiapkan kemungkinan operasi serangan jarak jauh terhadap target-target di Iran apabila situasi memburuk.
Israel Keluarkan Perintah Evakuasi Besar di Lebanon
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga meningkatkan aktivitas militernya.
Pada hari yang sama, Israel mengeluarkan perintah evakuasi kepada warga di sembilan kota di Lebanon selatan serta wilayah barat Bekaa.
Warga diminta meninggalkan rumah mereka sejauh minimal 1.000 meter karena Israel disebut kemungkinan akan kembali melancarkan operasi terhadap Hizbullah.
Langkah ini menunjukkan bahwa konflik regional kini tidak lagi terbatas pada Gaza atau Iran semata, tetapi mulai melebar ke Lebanon.
Israel Hancurkan Terowongan Super Hamas
Sementara itu, laporan terbaru dari Gaza menyebutkan bahwa militer Israel baru-baru ini berhasil menghancurkan empat terowongan besar milik Hamas.
Dua di antaranya disebut sebagai “terowongan super” dengan panjang mencapai sekitar empat kilometer.
Terowongan-terowongan tersebut diyakini menjadi bagian penting dari jaringan logistik dan pergerakan militer Hamas di bawah wilayah Gaza.
Penghancuran jaringan bawah tanah ini dianggap sebagai salah satu operasi terbesar Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan meningkatnya pengerahan armada Barat, sanksi ekonomi baru, ancaman Iran, serta aktivitas militer besar-besaran Amerika dan Israel, situasi Timur Tengah kini semakin mendekati fase yang sangat berbahaya.
Banyak pengamat menilai bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi periode penentu apakah krisis ini masih dapat dikendalikan melalui jalur diplomasi, atau justru berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas dan sulit dihentikan. (***)





