Gencatan Senjata Gagal, Iran Ancam Naikkan Uranium 90% Jika Diserang AS-Israel

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Upaya meredakan konflik antara Iran dan pihak lawan kembali menemui kebuntuan meski sudah melalui jalur diplomasi. Harapan terciptanya stabilitas kawasan memudar setelah perundingan gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Melansir Middle East Monitor, Pertemuan yang difasilitasi di Islamabad tidak mampu menjembatani perbedaan kepentingan yang tajam. Hasilnya, tidak ada formula damai yang disepakati untuk menghentikan konflik secara menyeluruh.

Gencatan senjata yang sempat diberlakukan hanya bertahan sebagai solusi sementara di tengah tekanan militer. Bahkan perpanjangannya dilakukan tanpa kepastian batas waktu yang jelas dan tanpa jaminan keberlanjutan.

Kondisi tersebut membuat situasi tetap berada dalam fase rapuh yang mudah berubah menjadi eskalasi terbuka. Ketidakpastian ini memperbesar risiko konflik kembali meledak sewaktu-waktu.

Di tengah kebuntuan diplomasi itu, Iran mulai mengirimkan sinyal respons yang lebih keras. Negara tersebut membuka kemungkinan langkah strategis sebagai balasan jika tekanan militer kembali datang.

Respons yang dimaksud tidak lagi bersifat simbolik atau retoris semata. Iran secara terbuka memasukkan opsi peningkatan pengayaan uranium dalam skenario kebijakan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ebrahim Rezaei yang menegaskan bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan.

“Kami akan mempertimbangkannya di parlemen,” ujarnya melalui platform X.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu ini telah masuk dalam pembahasan resmi di parlemen. Artinya, opsi tersebut memiliki jalur politik yang berpotensi mengarah pada keputusan strategis.

Yang menjadi perhatian utama adalah level pengayaan uranium yang disebut mencapai 90 persen. Angka tersebut secara luas dipahami sebagai ambang kritis yang mendekati penggunaan untuk kepentingan militer.

Jika langkah ini benar-benar diambil, dampaknya akan melampaui batas kawasan Timur Tengah. Eskalasi seperti ini berpotensi memicu kekhawatiran global terkait stabilitas keamanan internasional.

Akar konflik ini berawal dari serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Serangan tersebut memicu respons balasan dari Iran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Baca Juga: Donald Trump Tolak Proposal Damai dan Sebut Gencatan Senjata Iran Kritis

Tidak hanya itu, Iran juga menekan jalur strategis dengan menutup Selat Hormuz. Langkah ini memperbesar dampak konflik karena menyentuh jalur distribusi energi global.

Di sisi lain, peluang damai kembali terhambat oleh sikap keras dari pihak Amerika Serikat. Donald Trump menolak proposal Iran dan menyebutnya “totally unacceptable”.

Penolakan tersebut semakin memperkecil kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Dengan kondisi yang terus memanas, konflik ini masih berpotensi berkembang ke arah yang jauh lebih berbahaya dan sulit dikendalikan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ulurkan Tangan untuk Keselamatan Masyarakat, Personel Polres Pelabuhan Makassar Bantu Warga
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Guru Pendamping LCC MPR SMAN 1 Pontianak Rupanya Sempat Protes, Tak Disangka Ini yang Dikatakan oleh Dewan Juri
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Gus Ipul Lapor Prabowo soal Data Bansos: 11 Ribu Penerima Dicoret karena Judol
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua DPR Pastikan RUU Pemilu Disusun agar Jurdil dan Tidak Merugikan Rakyat
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Wall Street Ditutup Lebih Rendah, Terseret Data Inflasi AS
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.