JAKARTA, KOMPAS.com – Aktivis perempuan pembela hak asasi manusia (HAM), Dian Septi Trisnanti (42), memilih untuk tetap melanjutkan perjuangannya meski berkali-kali menghadapi berbagai bentuk teror.
Teror yang dialaminya mulai dari intimidasi, penguntitan, kekerasan fisik, hingga serangan digital seperti peretasan dan doxing.
Selama lebih dari dua dekade, Dian terlibat memberikan pendampingan kepada masyarakat, mulai dari isu buruh, perempuan, hingga korban penggusuran dan bencana.
Meski berbagai tekanan datang bertubi-tubi, Dian menegaskan dirinya tidak berhenti memperjuangkan hak masyarakat.
Baca juga: Dari Ujaran Kebencian hingga Meja Hijau, Fatia Maulidiyanti Tak Gentar Bela HAM
Baginya, rasa takut adalah hal yang wajar.
Namun, rasa takut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bersuara dan membela hal yang diyakini benar.
“Rasa takut seperti emosi lainnya tentu ada dalam diri kita. Saya menerimanya sebagai bagian dari diri. Nggak apa-apa juga takut, dan bersama rasa takut itu kita tetap melangkah,” ujar Dian kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2026).
Dian mengatakan, dirinya bisa bertahan karena mendapat dukungan dari komunitas dan sesama aktivis.
Baginya, saling mendukung, saling menjaga, dan tidak berjalan sendiri menjadi hal penting saat menghadapi berbagai tekanan.
“Saling merawat dan saling melindungi menjadi cara kami untuk bertahan,” kata Dian.
Di tengah berbagai ancaman yang masih terus terjadi, Dian menegaskan bahwa perjuangan membela HAM tetap harus dilanjutkan.
Baca juga: Kisah Dian Septi, Aktivis Perempuan yang Berkali-kali Diteror saat Membela HAM
Bagi dia, menghentikan perjuangan justru berarti memberi ruang bagi ketakutan untuk menang.
“Semakin kita bisa bertahan semakin kita bisa bersolidaritas dengan kawan lain, menjadi support system. Teruslah berserikat dan berjuang untuk perubahan yang lebih baik. Sebuah masa depan yang aman, sejahtera, demokratis,” ujar Dian.
Dari Yogyakarta ke Jakarta
Dian mulai aktif dalam gerakan sosial sejak 2001, saat masih berusia 17 tahun di Yogyakarta.