Di banyak keluarga Indonesia, ada satu fenomena yang sering luput dibahas secara serius: perempuan yang “berhenti” setelah menikah. Bukan berhenti hidup, tentu saja, melainkan berhenti mengejar ruang profesional yang dulu pernah mereka bangun. Gelarnya ada, keterampilannya mumpuni, bahkan sebagian pernah punya karier menjanjikan. Namun setelah menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, perlahan muncul perasaan kehilangan arah dan identitas diri.
Fenomena ini sering disebut sebagai stuck at home syndrome. Kondisi ketika perempuan merasa terjebak dalam rutinitas domestik tanpa ruang cukup untuk berkembang secara personal maupun profesional. Ironisnya, banyak yang sebenarnya ingin kembali bekerja, tetapi terhambat oleh norma sosial, beban pengasuhan, hingga rasa bersalah jika dianggap “kurang total” menjadi ibu. Padahal, persoalannya tidak sesederhana memilih antara rumah atau pekerjaan.
Ketimpangan DataWakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pernah menyampaikan bahwa partisipasi perempuan di sektor pendidikan, tenaga kerja, dan politik masih relatif rendah. Ini bukan sekadar isu kesetaraan simbolik, tetapi menyangkut masa depan ekonomi Indonesia.
Semakin besar keterlibatan perempuan dalam dunia kerja, semakin tinggi pula potensi produktivitas nasional. Banyak studi global menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi kerja perempuan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Dalam konteks keluarga pun demikian. Rumah tangga dengan dua sumber penghasilan umumnya lebih tahan menghadapi tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya pendidikan hingga krisis finansial tak terduga.
Namun di Indonesia, perempuan sering kali menghadapi dilema yang unik: ketika bekerja dianggap kurang fokus mengurus keluarga, sementara ketika hanya di rumah justru kehilangan ruang aktualisasi diri.
Burnout Ibu Rumah Tangga Itu NyataAda anggapan lama bahwa ibu rumah tangga “tidak bekerja”. Padahal kenyataannya justru sebaliknya: pekerjaan domestik berlangsung tanpa jam pulang, tanpa cuti, dan sering tanpa apresiasi.
Penelitian dalam Jurnal P3K tahun 2024 menemukan adanya hubungan positif antara stres dan burnout pada ibu rumah tangga. Artinya, semakin tinggi tekanan psikologis yang dialami, semakin besar pula risiko kelelahan emosional.
Sebaliknya, ibu rumah tangga dengan tingkat stres rendah dan dukungan sosial yang baik cenderung lebih mampu menjalani peran domestik secara sehat. Temuan serupa juga muncul dalam penelitian dari UIN Suska Riau yang menegaskan bahwa dukungan sosial—terutama dari pasangan dan keluarga—memiliki pengaruh besar terhadap penyesuaian psikologis perempuan.
Masalahnya, banyak perempuan tumbuh dalam budaya yang menormalisasi pengorbanan total. Mereka diajarkan menjadi “ibu yang baik”, tetapi jarang diajarkan cara menjaga kesehatan mentalnya sendiri.
Bayangkan kasus seperti Ibu Anin. Lulusan S-1 Akuntansi dengan predikat cumlaude. Setelah lima tahun menjadi ibu rumah tangga penuh waktu, ia mulai merasa kehilangan identitas profesionalnya. Ia tidak lagi percaya diri berbicara soal karier, bahkan merasa “tertinggal” dari teman-temannya.
Padahal kemampuan mengelola keuangan rumah tangga, menyusun prioritas pengeluaran, hingga mengatur kebutuhan keluarga adalah bentuk nyata dari transferable skills. Dalam dunia kerja modern, itu sangat dekat dengan budgeting, administrasi, dan manajemen proyek.
Sering kali perempuan sebenarnya tidak kehilangan kemampuan. Mereka hanya kehilangan ruang untuk menggunakannya.
Dari Dapur ke Ruang ProduktifKabar baiknya, dunia kerja hari ini jauh lebih fleksibel dibanding satu dekade lalu. Banyak perempuan mulai menemukan cara baru untuk tetap hadir bagi keluarga tanpa sepenuhnya meninggalkan aktualisasi diri.
Ada yang menjadi virtual assistant dari rumah. Ada yang membuka kelas daring. Ada pula yang membangun usaha kecil berbasis media sosial.
Lihat kisah Ibu Badrina, Semarang. Awalnya ia hanya membuat kue rumahan sambil mengasuh anak usia dua tahun. Namun setelah belajar digital marketing secara mandiri, usahanya berkembang hingga menghasilkan omzet belasan juta rupiah per bulan. Ia tetap bisa menemani anak pulang sekolah, tetapi juga memiliki penghasilan dan kepuasan profesional.
Kasus seperti ini semakin banyak muncul karena perempuan mulai sadar bahwa aktualisasi diri tidak selalu harus identik dengan kantor dan jam kerja formal.
Dan dalam penelitian mutakhir, Journal of Organizational Behavior menjelaskan bahwa konflik kerja-keluarga (work–family conflict) terjadi ketika tuntutan pekerjaan mengganggu kehidupan keluarga atau sebaliknya. Studi ini menyoroti meningkatnya tekanan pada perempuan akibat budaya dual-career household dan kerja digital yang membuat batas rumah-kantor semakin kabur.
Untuk itu, saat konflik muncul terhadap perempuan yang memiliki banyak peran sekaligus, mereka perlu memiliki jalan ninja. Solusinya,
bukan meminta perempuan memilih salah satu peran, melainkan menciptakan rekonsiliasi antara peran domestik dan publik.
Caranya bisa sangat praktis. Perempuan bisa bekerja fleksibel beberapa jam dari rumah. Mereka juga dapat mengikuti upskilling digital, membangun komunitas sesama ibu bekerja, atau membagi tanggung jawab domestik secara lebih adil dengan pasangan.
Hal sederhana seperti suami mengambil alih tugas malam saat istri sedang mengejar deadline sebenarnya punya dampak psikologis yang besar. Dukungan bukan sekadar “mengizinkan” istri bekerja, tetapi ikut terlibat dalam kerja domestik yang selama ini dianggap tugas perempuan semata.
Psikolog keluarga Anna Surti Ariani juga kerap menekankan pentingnya ruang pribadi dan me time bagi ibu. Sebab ibu yang terus-menerus kelelahan emosional berisiko mengalami stres kronis yang akhirnya memengaruhi pola asuh anak.
Mendefinisikan Ulang “Ibu yang Baik”Selama ini masyarakat sering membentuk standar ibu ideal yang nyaris mustahil: harus sabar, selalu hadir, tidak mengeluh, dan mengutamakan keluarga di atas segalanya. Akibatnya, banyak perempuan merasa bersalah ketika mulai memikirkan dirinya sendiri.
Padahal menjadi ibu yang bahagia juga bagian dari pengasuhan yang sehat.
Menjadi ibu rumah tangga tentu pilihan yang mulia. Tetapi memendam potensi hanya karena takut stigma sosial adalah hal berbeda. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak perempuan yang berkembang, percaya diri, dan punya ruang untuk bertumbuh.
Dan mungkin, langkah awalnya tidak harus besar.
Mulai dari ngobrol dengan pasangan. Memetakan dukungan sosial yang dimiliki. Menyisihkan 30 menit sehari untuk belajar keterampilan baru. Membangun portofolio kecil. Bergabung dengan komunitas.
Karena sesungguhnya banyak perempuan tidak memulai dari nol. Mereka sudah terbiasa menjadi manajer rumah tangga, negosiator konflik anak, pengatur keuangan, hingga pengambil keputusan harian. Dalam bahasa profesional, itu semua adalah kemampuan manajemen, komunikasi, dan kepemimpinan.
Anak memang membutuhkan ibu yang hadir. Tetapi mereka juga membutuhkan ibu yang sehat secara mental dan merasa dirinya berharga.
Dan sering kali, perempuan baru bisa memberi yang terbaik bagi keluarganya ketika ia juga memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk tumbuh.





