Mengejar Letusan Dukono, Tak Setimpal dengan Nyawa

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tidak peduli besar atau kecil, erupsi gunung api tetap berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu, nafsu mengabadikan momen erupsi tidak akan pernah setimpal dengan bahaya yang muncul di depan mata.

Pengamat vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung Mirzam Abdurrachman mengatakan hal itu menanggapi tewasnya tiga pendaki terdampak letusan Gunung Dukono di Halmahera, Maluku Utara, Jumat (8/5/2026).

Diduga, mereka nekat masuk dan mendaki area berbahaya ketika Dukono sedang erupsi, padahal puncaknya sudah dinyatakan terlarang untuk manusia. Pada Minggu, tim SAR mengevakuasi dua warga Singapura dan seorang warga Indonesia asal Manokwari, Papua Barat, dalam kondisi tidak bernyawa.

”Mau kecil atau besar, erupsi tetap berisiko,” kata Mirza.

Mirza mengatakan, Dukono adalah gunung api dengan aktivitas tinggi di Indonesia. Hal ini membuatnya diincar banyak pendaki. Mereka ingin menyaksikan langsung momen letusan dan mendokumentasikan aktivitas gunung setinggi 1.335 meter di atas permukaan laut itu.

“Bagi sebagian pendaki, gunung api semakin menarik ketika aktif. Mereka ingin mendapatkan atraksi yang luar biasa,” ujar dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB itu.

Baca JugaTiga Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan, Operasi SAR Ditutup

Sayangnya, keinginan itu kerap berbenturan dengan faktor keselamatan. Larangan mendaki diabaikan. Keselamatan diri pun menjadi nomor dua ketika keinginan eksis di media sosial begitu besar. Padahal, semuanya itu tidak pernah setimpal dengan nyawa manusia.

”Sejak bulan Agustus 2024 hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG sudah merekomendasikan larangan pendakian ke puncak Dukono,” kata dia.

Kepatuhan pada rekomendasi itu, kata Mirzam, menjadi kunci utama. Alasannya, bahaya atau tidaknya suatu kawasan bencana tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Dia mengatakan, misalnya, bahaya gunung api tidak hanya berasal dari abu vulkanik.

”Erupsi gunung api juga dapat menghasilkan bom vulkanik, awan panas, gas beracun, aliran lava, lahar, hingga longsor,” katanya.

Bom vulkanik, kata Mirzam berbahaya karena terlontar secara balistik dan tidak mengikuti arah angin. Awan panas juga memiliki kecepatan tinggi sehingga sulit dihindari siapa saja.

“Kalau yang keluar awan panas dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari,” ujarnya.

Meski mengkritisi pendaki yang nekat, Mirzam juga berharap implementasi sistem peringatan dini dibuat semakin ideal. Saat ini, informasi itu tidak hanya cukup disampaikan tapi juga mesti dipahami semua warga. Apalagi, tidak semua warga di daerah bencana punya kemudahan akses internet hingga bahasa Indonesia yang baik.

"Karena itu, tokoh masyarakat, kepala desa, pemandu lokal, dan pihak yang dipercaya warga perlu dilibatkan sebagai penghubung informasi. Dengan demikian, informasi ilmiah dapat diterima masyarakat melalui bahasa yang lebih mudah dipahami, " tambahnya.

Sepanjang Rabu, Dukono yang masih berada di Level II atau Waspada itu tercatat dua kali meletus dengan tinggi kolom abu mencapai 2.587 mdpl. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut.

Dengan aktivitas itu, Kepala PVMBG Siti Susilawati mengatakan, radius 4 km Kawah Malupang Warirang masih terlarang untuk manusia.

Ke depan, ia meminta para pendaki mematuhi rekomendasi di Gunung Dukono. Semua demi menghindari risiko terkena material vulkanik saat erupsi.

Tidak hanya berbahaya bagi pendaki yang nekat dan tertimpa bencana, erupsi juga membahayakan tim pencari.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Utara, Hentje M.L. Hetharia mengatakan, proses pencarian sempat mengalami kendala akibat material pasir vulkanik yang menutupi area pencarian dengan ketebalan bervariasi.

Aktivitas vulkanik Gunung Dukono yang masih fluktuatif menyulitkan tim. Akibatnya, tim SAR gabungan harus berhati-hati dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan personel di lapangan.

Baca JugaGunung Dukono Tiga Kali Erupsi dalam 1,5 Jam, Warga Butuh Persediaan Masker

Selain itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyatakan pengawasan pendakian di Gunung Dukono akan diperketat. Pelanggaran terhadap penutupan jalur pendakian dapat dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Ke depan, dia mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pengelola jasa pendakian untuk selalu memeriksa daerah rawan bencana melalui aplikasi InaRisk Personal BNPB, mematuhi rekomendasi PVMBG serta tidak melakukan aktivitas di zona berbahaya demi keselamatan bersama.

Sebab, seberapa kecil pun erupsi gunung api, risikonya tidak pernah benar-benar kecil. Tanpa kepatuhan, dampak tak terduga bisa datang kapan saja, termasuk kehilangan nyawa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota BAIS Terdakwa Kasus Penyiraman Air Keras Ngaku Cari Tahu Aktivitas Andrie Yunus sebelum Aksi
• 23 menit lalukompas.tv
thumb
Vonis Ibam 4 Tahun Penjara Diwarnai Dissenting Opinion Dua Hakim di Sidang Kasus Chromebook
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Prima Andalan (MCOL) Tebar Dividen Final Rp711 Miliar, 60 Persen dari Laba
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Juri dan MC Cerdas Cermat di Kalbar Digugat ke PN Jakpus, Diminta Minta Maaf
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Usai Pengumuman MSCI, OJK Janji Akan Banyak Emiten Berkualitas
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.