Dinkes Surabaya: SPPG Kotor dan Belum Punya SLHS Faktor Penyebab Ratusan Siswa Keracunan MBG

suarasurabaya.net
1 minggu lalu
Cover Berita

Hasil pendalaman sementara Dinas Kesehatan Kota Surabaya imbas 200 siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kotor dan belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Penyebab keracunan diduga karena proses melunakkan dari kondisi beku atau thawing daging yang diletakkan dalam ember dan area kotor.

Dokter Billy Daniel Messakh Kepala Dinkes Kota Surabaya mengungkap temuannya yang disertai rekaman video kondisi SPPG Bubutan Tembok Dukuh yang memproduksi MBG Senin (11/5/2026) kemarin dalam hearing di DPRD Kota Surabaya hari ini, Rabu (13/5/2026).

“Berdasarkan investigasi di lapangan, kami temukan ada beberapa kejanggalan dalam pemrosesan yang bisa dikategorikan salah,” bebernya.

Area thawing daging kotor itu terlihat dari video yang diperlihatkan, ada semacam kerak di lantai.

Sementara, daging dilunakkan dari kondisi beku dengan cara dialiri air dan diletakkan dalam bak selama 2 jam. Sehingga, berisiko ada pertumbuhan bakteri.

“Selama itu, lalat cukup banyak,” imbuhnya.

Tempat thawing daging dialiri air bersih. Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Kemudian, setelah proses mencuci, merebus, dan memotong, daging sempat disimpan di chiller yang tercampur dengan bahan pangan mentah lain.

Sehingga, banyak jeda waktu sampai akhirnya daging baru diolah pukul 02.00 WIB dini hari, Senin, yabg meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme.

“Terdapat jeda waktu yang cukup panjang (lebih dari 2 jam) mulai dari proses perebusan, pengirisan, hingga proses pembumbuan dan pemasakan akhir. Sehingga, berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme,” tuturnya.

Dokter Billy juga menyebut, higienitas dapur tidak terpenuhi karena tidak ada penghalang hama bahkan ditemukan lubang yang memungkinkan tikus masuk ke dalam dapur.

Trap insect tidak memenuhi standar, lalat bisa keluar masuk. Pintu masuk dapur juga mestinya ada penghalang juga tidak ada , mudah sekali insect masuk. Ada area yang kita tangkap juga kemarin jangan-jangan tikus juga masuk lewat situ,” jelasnya.

Kesimpulan sementara dari pendalaman Dinkes, diduga penyebab keracunan karena kontaminasi kimiawi pada makanan, keracunan akibat Toksin Staphylococcus Aureus, dan keracunan akibat toksin Bacillus Cereus tipe emetik.

Namun, kesimpulan itu perlu diperkuat dengan hasil uji sampel di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) selama 5-7 hari terhitung mulai Senin kemarin.

“Kemungkinan Senin (18/5/2026),” tutupnya.(lta/rid)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
9 WNI Tiba di Indonesia, Menlu Sugiono: Terima Kasih Pemerintah Turki Ikut Bantu
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
60 Siswa di Jakarta Dicabut Hak KJP-nya akibat Terlibat Tawuran
• 51 menit lalukompas.com
thumb
Perajin Tahu di Kulon Progo Kecilkan Ukuran Produk Akibat Harga Kedelai Naik
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Ucapan Terima kasih Dubes Palestina untuk WNI Aktivis GSF: Kalian Pahlawan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Cuaca Jawa Timur 25 Mei 2026: BMKG Prakirakan Hujan Ringan Seharian
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.