Tiongkok, sebagai negara pembeli energi terbesar di dunia, menghadapi ancaman krisis setelah volume impor energi mereka dilaporkan anjlok tajam pada April 2026. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari hampir terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur maritim paling vital bagi pasokan energi global.
Berdasarkan data terbaru dari Bea Cukai Tiongkok yang dirilis pada Sabtu, 9 Mei 2026, volume pengiriman minyak mentah turun sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 38,47 juta ton. Angka ini menandai level terendah sejak Juli 2022.
Sektor gas juga tidak luput dari dampak tersebut, di mana impor gas alam turun 13% menjadi 8,42 juta ton. Data analitik dari Kepler menunjukkan bahwa pembelian LNG oleh Tiongkok bahkan telah jatuh ke level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Baca juga: Impor Minyak Mentah dari Nigeria Sudah Masuk Indonesia
Gangguan pada jalur pasokan ini dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi pada 28 Februari lalu. Ketegangan tersebut melumpuhkan aktivitas di Selat Hormuz, padahal wilayah Timur Tengah biasanya memasok sekitar setengah dari total impor minyak mentah Tiongkok dan hampir sepertiga dari kebutuhan gas alam cair (LNG) negara tersebut.
Kondisi ini memaksa Pemerintah Tiongkok memprioritaskan produk olahan seperti solar dan bensin untuk kebutuhan domestik. Kebijakan ini berakibat pada anjloknya ekspor produk minyak Tiongkok sebesar 38% ke level 3,12 juta ton karena stok dialihkan untuk memperkuat ketahanan energi dalam negeri.
Di sisi lain, Tiongkok juga mulai mengurangi ketergantungan pada pasar internasional untuk komoditas lain. Impor batu bara turun 13% menjadi 33,08 juta ton pada April. Alih-alih mengejar impor dengan harga yang jauh lebih tinggi akibat krisis jalur distribusi, pihak Tiongkok lebih memilih mengandalkan produksi batu bara domestik yang saat ini masih melimpah.




