Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) usai pengumuman hasil rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih dalam batas wajar dan belum menunjukkan kepanikan investor di pasar.
Hasan Fawzi Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK mengatakan, frekuensi, volume, dan nilai transaksi perdagangan saham hari ini berada dalam kondisi yang cukup baik dan masih normal apabila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
“Tadi frekuensi dan volume, serta nilai transaksi (efek) juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ini menunjukkan tidak adanya panic selling atau reaksi satu arah berupa aksi menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,” kata Hasan pada Rabu (13/5/2026) yang dikutip dari Antara.
Untuk diketahui, IHSG pada Rabu pagi dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94. Lalu berdasarkan data pukul 11.55 WIB, IHSG masih terkoreksi di level 6.738,31.
Menurut Hasan, pelemahan pasar itu merupakan konsekuensi jangka pendek dari reformasi integritas dan transparansi pasar modal yang dijalankan OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Self Regulatory Organization (SRO) lainnya.
Reformasi tersebut membuat keterbukaan struktur kepemilikan saham menjadi lebih transparan, sehingga penyedia indeks global yang termasuk MSCI, dapat menghitung kembali porsi saham secara lebih akurat.
Selain itu, reformasi turut menyebabkan “short term pain” berupa tekanan harga saham dan penyesuaian indeks dalam jangka pendek. Meski demikian, otoritas menyakini langkah tersebut justru akan menghasilkan pasar modal yang lebih kredibel dalam jangka panjang.
“Ini tentu setidaknya memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak sehingga istilah short term pain bahwa kita akan harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek, dan tentu menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” tambah Hasan.
Di tengah koreksi pasar, Hasan menilai saham-saham di Indonesia saat ini berada pada valuasi yang cukup menarik bagi investor.
Menurutnya, rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) IHSG sudah jauh lebih rendah dibanding ketika indeks mencapai rekor tertinggi pada pertengahan Januari 2026. Bahkan, secara regional, rata-rata PER saham Indonesia masih berada di bawah bursa saham negara lain dengan level sekitar 16 kali.
“Jadi ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja ke depannya,” kata Hasan.
Sementara itu, Jeffrey Hendrik Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan bahwa keputusan MSCI tersebut justru mengurangi salah satu sumber volatilitas atau ketidakpastian di pasar saham.
Sedangkan selama ini, lanjut dia, pasar berada dalam ambang tekanan volatilitas tinggi akibat berbegai faktor global, seperti geopolitik hingga fluktuasi harga komoditas dan mata uang.
“Salah satu unsur ketidakpastian itu adalah pasar menunggu keputusan dari MSCI. Oleh karena itu tentu kami melihat dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian,” ujar Jeffrey.
Sebagai informasi, Morgan Stanley Capital International (MSCI), lembaga penyedia indeks global, sebelumnya telah mengumumkan hasil tinjauan indeks pasar Indonesia dalam MSCI May 2026 Index Review.
Hasil tinjauan tersebut berisi mengenai enam saham Indonesia yang resmi ikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Index. Keenam saham tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sedangkan pada MSCI Small Cap Index, MSCI memasukkan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke dalam indeks small cap atau MSCI Global Small Cap Index.
Di sisi lain, MSCI menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham tersebut yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).(ant/mar/rid)




