Jangan Lengah Hantavirus, Dokter Ungkap Gejala Awal yang Sering Diabaikan!

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Tangerang, VIVA – Belakangan ini, Hantavirus mulai ramai diperbincangkan setelah muncul laporan sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, terinfeksi virus tersebut. Dari kasus yang dilaporkan, tiga orang dikabarkan meninggal dunia akibat infeksi yang tergolong langka namun berbahaya ini.

Meski belum sepopuler COVID-19 atau flu burung, Hantavirus sebenarnya termasuk penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang paru-paru hingga ginjal dan berujung fatal jika terlambat ditangani. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Baca Juga :
Cegah Penyebaran Hantavirus, Kemenkes Awasi Ketat Penumpang Asal Amerika Selatan 46 Hari
Dinkes Bantah Kasus Hantavirus Jakarta Berasal dari Klaster Kapal Pesiar MV Hondius

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, virus ini umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," jelas dr. Rio Yansen, dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026. 

Hantavirus sendiri diketahui dapat memicu dua sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal serta pembuluh darah.

Yang membuat penyakit ini cukup berbahaya adalah gejalanya pada tahap awal sering menyerupai flu biasa. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala hebat, hingga tubuh terasa lemas. Tak sedikit juga yang mengalami gangguan pencernaan seperti muntah, diare, dan nyeri perut.

Namun ketika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Dalam beberapa kasus, tekanan darah bisa turun drastis hingga menyebabkan syok dan gangguan fungsi ginjal.

Dokter Rio mengingatkan bahwa risiko penularan lebih tinggi pada orang yang sering beraktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang lama, area pertanian, perkebunan, hingga bangunan yang lama tidak dihuni.

Selain itu, membersihkan ruangan tertutup yang penuh debu tanpa perlindungan juga dinilai berisiko. Partikel virus yang menempel pada kotoran atau urine tikus dapat beterbangan di udara dan terhirup tanpa disadari.

Baca Juga :
Wamenkes Dante: Varian Hantavirus di Indonesia Ringan, Fatalitas Kematian Rendah
Menkes Pastikan Kasus Hantavirus di Jakarta Terkendali, WNA Kontak Erat Diisolasi 14 Hari
WHO Konfirmasi 11 Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berkah Warisan Habib Bugak: Jemaah Haji Aceh 2026 Terima Dana Wakaf Rp9,2 Juta di Makkah
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
84 dari 133 SPPG di Surabaya Belum Punya SLHS, Kepala KPPG: Memang Diperkenankan
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Persepsi Risiko Tinggi Menekan Nilai Tukar Rupiah
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Pemantauan Hilal Awal Zulhijah 1447 H Digelar 17 Mei 2026 di 88 Titik, Ini Lokasinya
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Pramono: Jakarta Masih Ibu Kota, Belum Ada Keputusan Presiden Pindah ke IKN
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.