Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Berikut Ini Tips Menghadapinya

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS merosot tajam. Sejumlah pihak khawatir hal itu bisa berdampak berbagai sektor, termasuk menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Akademisi dan pakar ekonomi dari sejumlah kampus terkemuka di Malang memberikan beberapa tips agar warga bisa bertahan menghadapi dampak dari kondisi tersebut.

Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Yunan Saifullah, Rabu (13/05/2026), mengatakan, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS biasanya terjadi ketika permintaan dollar meningkat lebih tinggi dibanding rupiah. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi ekonomi global, suku bunga AS naik, impor tinggi, ketidakpastian politik atau ekonomi, hingga keluarnya investasi asing dari Indonesia.

“Ketika rupiah melemah, dampaknya tidak langsung terasa sekaligus. Akan tetapi, dampaknya secara perlahan mempengaruhi harga barang, biaya hidup, usaha, hingga daya beli masyarakat,” katanya.

Dampak yang perlu diwaspadai masyarakat, menurut Yunan, misalnya kenaikan barang impor dan barang dengan bahan baku impor. Hal ini karena produk itu dibeli dengan dollar. Akibatnya, harga jual ke konsumen ikut naik. Beberapa produk kemungkinan mengalami kenaikan harga seperti elektronik, gadget, laptop, suku cadang kendaraan, obat-obatan tertentu, dan bahan pangan impor.

“Selain itu, BBM dan biaya transportasi berpotensi naik. Ini karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor minyak dan energi. Sehingga, saat dollar naik, maka biaya impor energi meningkat, ongkos distribusi naik, dan harga transportasi bisa terdampak naik. Kalau hal itu berlangsung lama, efeknya bisa menjalar ke naiknya harga kebutuhan sehari-hari,” kata Yunan.

Ketika banyak harga naik bersamaan, maka daya beli masyarakat menurun. Uang dengan nilai sama, hanya bisa membeli barang lebih sedikit dibanding sebelumnya.

“Contohnya adalah belanja bulanan terasa lebih mahal, biaya sekolah dan kesehatan meningkat, dan biaya usaha bertambah. Kondisi ini akan semakin parah untuk masyarakat yang mempunyai cicilan atau utang dollar, menanggung biaya pendidikan luar negeri, memiliki tagihan pembayaran impor,” kata Yunan.

Lebih parahnya lagi, jika kondisi ini tidak tertangani, maka dunia usaha, menurut Yunan, bisa tertekan. Bisnis yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami turunnya margin keuntungan, dan kenaikan biaya produksi. Jika kondisi memburuk, mereka bisa terdesak untuk mengurangi tenaga kerja.

Namun, di sisi lain, menurut Yunan, masih ada sektor yang tetap diuntungkan dengan kondisi ini. Mereka adalah eksportir, pengusaha pariwisata, dan perusahaan berbasis pendapatan dollar. Jika pendapatan mereka dalam dollar, saat dikonversikan ke rupiah, nilainya menjadi lebih besar.

Tips

Menghadapi kondisi berat itu, Yunan membagikan beberapa tips. Hal itu perlu dipikirkan agar orang bisa bertahan dalam kondisi tidak pasti seperti sekarang ini.

Pertama, kurangi pengeluaran yang bergantung pada barang impor. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu. Tunda pembelian barang sensitif terhadap dollar seperti gadget baru, barang elektronik non-prioritas, atau barang hobi impor. Harga produk-produk tersebut diprediksi akan terus naik.

Tips kedua, perkuat dana darurat. Saat ekonomi tidak stabil, dana darurat menjadi sangat penting. Idealnya, nilai dana darurat adalah 3–6 bulan pengeluaran rutin untuk karyawan atau 6–12 bulan untuk freelancer atau pengusaha. Dana itu bisa disimpan di instrumen yang mudah dicairkan.

Tips ketiga, hindari utang konsumtif. Seperti paylater berlebihan, cicilan konsumsi, atau utang berbunga tinggi. Dalam kondisi ekonomi melemah, kemampuan bayar bisa ikut tertekan.

Tips keempat, fokus pada peningkatan skill (kemampuan) dan pendapatan. Dengan update kemampuan, maka kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji.

Menurut Yunan, dalam kondisi ekonomi tidak menentu ini, pilihan terbaik adalah mencari sumber penghasilan tambahan, mempelajari skill digital, membangun side hustle, dan mempertimbangkan pekerjaan dengan pasar global. “Skill yang bisa menghasilkan pendapatan berbasis dollar justru menjadi peluang saat rupiah melemah,” katanya.

Tips penting lain, menurut Yunan, adalah melakukan diversifikasi tabungan dan investasi. Jangan menaruh seluruh aset di satu tempat. Contoh diversifikasi misalnya tabungan rupiah, tabungan emas, reksa dana pasar uang, saham sektor defensif, atau aset berbasis dollar (secukupnya dan sesuai profil risiko). “Ini tujuannya untuk mengurangi risiko ketika satu aset tertekan,” katanya.

Yunan menambahkan, hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah lebih bijak mengelola cash flow. Misal mengecek ulang pengeluaran bulanan, dan memutus biaya langganan hiburan yang tidak perlu.

“Hal yang perlu dipahami juga, rupiah melemah bukan selalu tanda ekonomi “hancur”. Banyak negara berkembang mengalami hal serupa ketika ekonomi global sedang tidak stabil atau dollar AS sedang sangat kuat. Yang paling penting bagi masyarakat adalah menjaga daya tahan keuangan pribadi, tidak panik, mengurangi risiko, dan meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan. Karena dalam kondisi kurs bergejolak, yang paling bertahan biasanya bukan yang paling besar penghasilannya, tetapi yang paling sehat pengelolaan keuangannya,” katanya.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.500, BI dan Kemenkeu Lakukan Penyelamatan

Tips serupa juga dibagikan oleh Dosen Ekonomi Universitas Brawijaya Wildan Syafitri. Menurutnya, pemerintah bisa memanfaatkan kondisi saat ini dengan menggenjot ekspor, dan mendorong investasi. BI dapat mengaktifkan Bond untuk mendorong pasar obligasi (tetapi menambah utang) dan insentif fiskal bagi komoditi ekspor.

“Dalam kondisi dollar tinggi seperti ini, maka secara umum menggenjot ekspor dan mendorong investasi adalah hal yang bisa dilakukan,” katanya.

Baca JugaRupiah Anjlok, Rumah Tangga dan UMKM Makin ”Boncos”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Media 'Homeless' vs Verifikasi Dewan Pers, SMSI Dorong Regulasi Pers Lebih Adaptif di Era Digital
• 6 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Tidak Ada Alasan Lagi Menunda UU KKS
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Ketua Fraksi Golkar DPR: Negara Tak Boleh Kalah oleh Pelaku Kriminal di Jalanan
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Begini Cara Cek dan Hitung Free Float Saham Setelah Aturan Baru BEI
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Ungkap Strategi Selamatkan Rupiah: Kita Enggak Akan Buruk Seperti 98
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.