Ibu Hamil Ditandu Enam Jam, Warga Desa di Tapanuli Selatan Minta Jalan Segera Dibangun

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

SIPIROK, KOMPAS – Warga Desa Dalihan Na Tolu di Tapanuli Selatan memohon kepada pemerintah agar segera membangun jalan ke desa tertinggal itu. Seorang ibu hamil, Tuty Daulay (20), kehilangan janin setelah ditandu selama enam jam dari desa ke rumah sakit. Pemerintah sudah berulang kali berjanji membangun jalan ke desa itu tapi tak pernah direalisasikan.

“Kami memohon agar jalan ke desa kami bisa segera dibangun. Jangan ada lagi ibu hamil yang harus ditandu selama enam jam untuk ke rumah sakit dan kehilangan bayinya,” kata Samsul Bahri Sihombing, mantri di Desa Dalihan Na Tolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, Rabu (13/5/2026).

Bahri bersama belasan warga lainnya menandu Tuty dari Desa Dalihan Na Tolu di kecamatan Arse menuju Rumah Sakit Umum Daerah Sipirok. Mereka berjalan kaki melewati jalan tanah setapak sejauh 15 kilometer.

Setelah sampai ke desa terdekat yang bisa diakses mobil, Tuty diangkut menggunakan mobil berpenggerak empat roda untuk melewati 15 kilometer berikutnya hingga tiba di rumah sakit. Video perjalanan Tuty yang ditandu belasan warga pada Sabtu (9/5/2026) beredar luas di media sosial.

Setelah diperiksa di rumah sakit, dokter menyatakan bayi Tuty yang berada di dalam kandungan telah meninggal. Tuty pun menjalani operasi untuk mengangkat bayinya.

“Kondisi Tuty saat ini sudah membaik dan sudah bisa pulang dari rumah sakit. Tapi dia masih berada di rumah keluarganya di Sipirok karena masih harus mengontrol kesehatannya lagi ke rumah sakit,” kata Samsul.

Tuty pun harus tinggal di rumah keluarganya dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk ditandu lagi ke desanya.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengatakan, peristiwa itu menjadi evaluasi penting bagi pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan desa-desa tertinggal. Beberapa langkah akan diambil seperti pembangunan jalan dan fasilitas kesehatan yang bisa diakses oleh masyarakat di desa tertinggal.

“Kami dari provinsi menyampaikan belasungkawa atas peristiwa ini. Ini tanggung jawab pemerintah daerah agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat lebih mudah dijangkau,” kata Bobby.

Bobby mengatakan, salah satu tantangan membangun jalan ke desa tertinggal adalah lahan jalan yang sebagian merupakan kawasan hutan lindung. Hal itu juga menjadi persoalan dalam pembangunan jalan ke Desa Dalihan Na Tolu.

Untuk membangun jalan di kawasan hutan lindung, kata Bobby, perlu ada izin dari Kementerian Kehutanan. “Ada dua opsi untuk persoalan ini. Pertama, mengajukan izin membangun jalan ke Kementerian Kehutanan. Kedua, tentu bisa pengalihan atau pergeseran badan jalannya ke area yang bukan kawasan hutan,” kata Bobby.

Bobby menyebut, jalan menuju Desa Dalihan Na Tolu merupakan jalan kabupaten. Mereka akan mendampingi Pemkab Tapanuli Selatan untuk mengajukan izin pembangunan jalan di kawasan tersebut. Selain itu, kata Bobby, Pemprov Sumut akan memberikan bantuan anggaran untuk pembangunan jalan di desa tertinggal.

Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu mengatakan, tahun ini mereka akan membangun jalan ke Desa Dalihan Na Tolu bekerja sama dengan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

“Yang paling berat medannya itu adalah Desa Dalihan Na Tolu. Saya terus terang belum pernah ke sana. Makanya setelah dari sini, saya akan pergi ke sana untuk melihat faktanya,” kata Gus Irawan sebagaimana dikutip dari Tribun Medan.

Menurut Gus Irawan, mereka sudah mengajukan izin pembangunan jalan di kawasan hutan tersebut. Namun, Pemkab Tapanuli Selatan belum mendapat izin pembangunan jalan itu.

Antropolog dan pegiat hak asasi manusia dari Universitas Sumatera Utara, Wina Khairina, mengatakan, apa yang terjadi kepada Tuty adalah puncak gunung es persoalan ketimpangan pembangunan di Sumut dan di Indonesia secara keseluruhan.

”Kita enggak bisa bayangkan hari ini di tahun 2026 masih ada perempuan yang harus ditandu 6 jam untuk melahirkan dan akhirnya anaknya meninggal. Ini tamparan buat Indonesia,” kata Wina.

Wina mengatakan, perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan dari ketimpangan pembangunan. Pemerintah harus menyusun ulang rencana pembangunan di desa-desa tertinggal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Geger Polisi Ditembak dan Siswa Dibacok Begal, Negara Diminta Tak Kalah dari Pelaku Kriminal Jalanan
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Netizen Geram Lihat Anggota DPRD Jember Santai Main Game Sambil Merokok Ketika Bahas Stunting: Pecat Langsung!
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Pramono Anung Tegaskan DKI Jakarta Tetap Ibu Kota Selama Belum Ada Keppres
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
China Siap Perluas Kerja Sama dengan Amerika Serikat saat Kunjungan Donald Trump ke Beijing
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Instruksikan Pembentukan Satgas Deregulasi untuk Pangkas Perizinan Usaha
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.