Hobi memasak yang diwariskan dari sang nenek membawa Andi Putri Karfani membangun usaha kacang disko rumahan di Makassar. Dari produksi sederhana, Kacang Disko Putri A7 kini berkembang dengan berbagai varian rasa dan mulai dikenal di pasar luar daerah.
Edward AS
Kecamatan Manggala
Aroma rempah dan kacang goreng menyeruak dari sebuah rumah di Jalan Inspeksi PAM Lorong 1, Jalan Daeng Hayo, Babussalam, Kecamatan Manggala, Makassar. Dari tempat sederhana itulah Andi Putri Karfani perlahan membangun usaha Kacang Disko Putri A7 yang kini mulai dikenal hingga luar Sulawesi.
Di sela aktivitasnya sebagai pegawai Dinas Sosial Kabupaten Maros, Putri tetap menyempatkan diri mengurus usaha camilan yang sudah ia rintis sejak puluhan tahun lalu. Semua bermula dari kebiasaan masa kecilnya membantu sang nenek memasak di dapur.
“Dari kecil saya memang suka lihat nenek bikin makanan dan kue. Jadi lama-lama suka memasak sendiri,” ujarnya sambil tersenyum.
Dari sekian banyak makanan yang pernah ia coba buat, kacang disko menjadi pilihan utama. Bagi Putri, camilan itu bukan sekadar makanan ringan, tetapi bagian dari kenangan keluarga saat lebaran.
“Kalau lebaran, kacang disko itu selalu ada di rumah nenek,” katanya.
Awalnya usaha itu hanya berjalan kecil-kecilan dari rumah. Produknya belum memiliki kemasan menarik dan dipasarkan terbatas ke kerabat dekat. Namun perlahan, dorongan keluarga dan teman membuat Putri mulai serius mengembangkan usahanya.
Tahun 2015 menjadi titik penting ketika ia mulai aktif mengikuti pembinaan UMKM. Dua tahun kemudian, produk Kacang Disko Putri A7 mulai dikemas lebih modern dan dipasarkan lebih luas.
Kini, camilan buatannya hadir dalam lima varian rasa, mulai dari original, asin, manis pedas, daun jeruk, hingga kopi. Rasa daun jeruk dan kopi menjadi inovasi terbaru yang mulai diperkenalkan sejak 2024.
“Kalau tidak berinovasi, orang cepat bosan,” ujarnya.
Dalam sebulan, Putri mampu memproduksi sekitar 500 hingga 700 kemasan. Saat momen lebaran, jumlah pesanan biasanya meningkat tajam.
“Kalau lebaran biasanya lebih ramai karena banyak cari untuk suguhan,” katanya.
Tak hanya dijual langsung, produk Putri juga mulai masuk ke sejumlah hotel dan pusat oleh-oleh di Makassar. Bahkan, sebagian pelanggan rutin melakukan pemesanan secara online.
Menariknya, sebagian besar transaksi kini dilakukan secara non-tunai menggunakan QRIS. Putri mengaku sistem pembayaran digital cukup membantu, terutama saat mengikuti pameran UMKM.
“Kalau pameran saya selalu pakai QRIS. Sekarang memang lebih banyak non-tunai,” ujarnya.
Perjalanan usaha Putri juga tidak lepas dari berbagai pelatihan dan pendampingan yang ia ikuti. Ia mengaku banyak belajar soal kemasan, pemasaran, hingga pengembangan produk setelah bergabung sebagai mitra binaan PT Permodalan Nasional Madani.
Kesempatan mengikuti pameran nasional pun mulai terbuka. Pada 2023, Putri terpilih mengikuti program BRIlian Preneur tingkat nasional di Jakarta. Awal 2025, ia kembali mendapat kesempatan yang sama untuk kedua kalinya.
“Banyak sekali manfaat yang saya dapat. Mulai pelatihan sampai ikut pameran nasional,” katanya.
Meski usahanya terus berkembang, Putri merasa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya menyiapkan tempat produksi yang lebih layak agar bisa mengurus izin BPOM.
“Sekarang saya sementara cari tempat produksi yang memenuhi standar,” ujarnya.
Project Leader Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, menilai usaha Putri menunjukkan bahwa UMKM lokal memiliki peluang besar untuk berkembang jika dibarengi inovasi dan kemauan belajar.
“Produk seperti Kacang Disko Putri A7 punya kekuatan karena membawa cita rasa lokal, tapi dikemas mengikuti kebutuhan pasar sekarang,” katanya.
Menurut Ayu, pelaku UMKM saat ini juga perlu cepat beradaptasi dengan perkembangan digital, mulai dari pemasaran online hingga transaksi non-tunai.
“Sekarang konsumen sudah banyak yang belanja digital. Jadi UMKM harus ikut berkembang supaya pasar makin luas,” ujarnya.
Bagi Putri, usaha ini bukan sekadar soal keuntungan. Dari dapur rumah sederhana di Manggala, ia ingin terus menjaga cita rasa camilan keluarga yang dulu hanya hadir saat lebaran, agar bisa dinikmati lebih banyak orang. (*)





