Cannes, tvOnenews.com - Festival film terbesar dunia, Cannes Film Festival, kembali menunjukkan bahwa dunia sinema tidak pernah benar-benar terpisah dari politik.
Pada penyelenggaraan 2026, diskusi soal perang, sensor, dominasi media, hingga masa depan industri film justru menjadi sorotan utama bahkan sebelum festival berlangsung.
Tahun ini, sutradara Korea Selatan Park Chan-wook memimpin dewan juri utama Cannes. Ia didampingi sejumlah nama besar seperti Demi Moore, Chloé Zhao, Paul Laverty, hingga Stellan Skarsgård.
Komposisi juri ini dianggap merepresentasikan wajah sinema global yang semakin politis dan terbuka terhadap isu sosial.
Dalam konferensi pers pembukaan festival, Park Chan-wook secara terbuka mengatakan bahwa seni dan politik tidak bisa dipisahkan.
Pernyataan itu muncul ketika sejumlah jurnalis menanyakan bagaimana Cannes menghadapi situasi global yang dipenuhi konflik geopolitik dan polarisasi budaya.
Juri lain, Paul Laverty, bahkan mengecam kondisi di Gaza dan menyoroti apa yang ia sebut sebagai blacklisting terhadap aktor Hollywood yang bersuara mendukung Palestina seperti Susan Sarandon, Mark Ruffalo, hingga Javier Bardem.
“Shame on Hollywood," ujar Paul Laverty atas boikot yang dilakukan pada aktor-aktor yang berani menyuarakan bahwa mereka mengecam genosida di Palestina.
Nuansa politik di Cannes sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu, ketika aktris Prancis Juliette Binoche menjadi presiden juri, ia menggunakan panggung pembukaan festival untuk memberi penghormatan kepada jurnalis foto Palestina Fatima Hassouna yang tewas akibat serangan udara Israel di Gaza.
Binoche juga dikenal aktif dalam berbagai isu politik dan HAM, mulai dari pembelaan terhadap sutradara Iran Jafar Panahi hingga kritik terhadap represi politik di Iran.
Di sisi lain, lebih dari 600 pekerja industri film Prancis tahun ini menandatangani surat terbuka yang memperingatkan meningkatnya pengaruh kelompok kanan ekstrem terhadap industri perfilman Prancis.
Mereka menyoroti dominasi konglomerat media Vincent Bolloré yang dinilai dapat mengubah arah budaya dan produksi film menjadi lebih ideologis. Nama Juliette Binoche termasuk salah satu penandatangan surat tersebut.
Perdebatan ini memperlihatkan perubahan besar dalam festival film internasional. Jika dulu Cannes sering mencoba menjaga citra sebagai ruang yang murni hanya seni, kini banyak sineas justru menganggap posisi netral mustahil dipertahankan.




